Kisah
nyata berikut ini dituturkan oleh seorang gadis yang akhirnya menemukan kembali
jalan hidupnya setelah sempat jatuh kelembah maksiat. Adapun nama dan alamat
tokoh yang bersangkutan hanya rekaan saja (disamarkan).
Perkenalkan
namaku Desi, kisah ini berawal Setelah orangtuaku memutuskan berpisah. Saat itu
mama mengajakku pindah kekota hujan dengan maksud ingin melupakan kenangan
pahit yang pernah kami alami. Sejak kepindahaku kekota ini dan memasuki sekolah
baru, aku sama sekali tidak memiliki teman karena memang tidak ada satupun yang
kukenal. Semua tampak asing bagiku.
Tapi
keadaan itu tak bertahan lama, setelah aku mengenal Reni. dia sangat
cantik,baik, ramah, dan ternyata memiliki latar belakang yang sama denganku.
sama-sama berasal dari keluarga brokenhome. Tak heran jika kami cepat akrab dan
selalu nyambung jika sedang mendiskusikan berbagai hal. Termasuk masalah
keluarga. Mungkin alasan itulah yang membuatku merasa nyaman jika
bersamanyanya. Aku seolah mendapatkan apa yang selama ini tak kudapatkan dari
orangtuaku. Reni begitu mengerti kondisiku dan selalu ada saat aku
membutuhkannya. Setiap bersama, aku seperti melihat adanya perasaan cinta
dimatanya. Perasaan yang aku rasa bukan selayaknya seorang sahabat melainkan
seorang kekasih yang ingin selalu memiliki. Namun aku tak berani menanyakannya,
aku takut dia tersinggung dan tak lagi mau bersahabat denganku. aku juga takut
dia meninggalkanku seperti papa meninggalkan mama dan aku.
Beberapa
bulan berlalu kamipun telah naik kekelas dua/XI, tapi aku masih tetap dengan
rasa penasaranku terhadap sikap reni yang semakin menunjukkan adanya perasaan
khusus terhadapku. “ya des, aku sayang sama kamu lebih dari seorang sahabat dan
aku yakin kamu pasti juga merasakan hal yang sama.” Ungkapnya. Anehnya aku
justru merasa sangat senang mendengarnya, kamipun akhirnya menjalin cinta
terlarang. Kami benar-benar menikmati hubungan ini dan tanpa kusadari kami
telah melampui batas. Reni memang wanita spesialku, dia mampu mengobati luka
hati akibat peristiwa buruk yang terjadi dikeluargaku. Aku sangat mencintainya
dan tak ingin kehilangan dia begitupun sebaliknya.
Hubungan
kami terus berjalan hingga kami sama-sama menjadi mahasiswa. Sayangnya aku dan
reni kuliah ditempat yang berbeda, aku kuliah di ITB sedangkan reni di STSI
Bandung. Singkat cerita aku mengenal wahyu, asisten dosen yang juga menjabat
sebagai ketua salah satu organisasi dikampus. Tak butuh waktu lama untuk saling
mengenal, kamipun resmi berpacaran. Kendati demikian hubunganku dengan reni
juga masih tetap berlanjut meski aku harus berusaha keras mencari berbagai
alasan agar bisa menghindar darinya. Namun yang namanya menyimpan daging busuk
pastilah akan tercium juga baunya. Reni yang mengetahui hubunganku dengan wahyu
merasa sangat pupus. Sakit hati tak mampu lagi dibendungnya,marah dan kecewa
bercampur jadi satu tak hanya denganku tapi juga dengan wahyu. Berbagai macam
teror dan ancaman sering kali dilayangkannya untukku. Merasa tidak tenang dan
terus dihantui rasa bersalah membuatku akhirnya kembali kepada reni. Namun
situasi itu tidaklah bertahan lama, aku justru semakin merasa tidak tenang dan
ragu dengan perasaanku sendiri. “semua keputusan sekarang ada ditanganmu,
mintalah petunjuk kepada Allah agar kamu tidak tersesat” kata wahyu. Dengan
bimbingan wahyu aku melakukan solat istikharah untuk menentukan pilihanku yaitu
menjadi lesbian sejati atau kembali menjadi wanita normal.
Beberapa
hari kemudian aku benar-benar memutuskan hubungan ku dengan Reni. Aku tahu tak
ada perpisahan yang tak beruai air mata. Namun jika niat hati telah bulat untuk
mengubah hidup memang diperlukan pengorbanan. Berkat dorongan dari wahyu pula
aku mengakui kekhilafanku dihadapan mama. Ibarat petir yang menyambar, badan
mama gemeteran dan lemas seperti mau jatuh. “Desi pengen sembuh Ma tapi desi
bingung harus ngapain?” kataku. Mendengar pengakuanku, tangis mama mulai
mengembang tanpa bisa dibendung lagi, akupun larut dalam kesedihan itu, seraya
menangis kami berpelukan.
Sejak
mendengar pengakuanku malam itu, mama mulai mencari informasi terkait kelainan
yang kualami. Berbagai cara juga ditempuh untuk mempercepat penyembuhanku. Dan
informasipun didapat, salah seorang teman mama menyarankan untuk membawaku ke
tempat ustadz massar untuk diruqyah. Alhamdulillah saran itu cukup membantu
kami, sepulang dari tempat beliau aku mencoba melakukan berbagai ibadah dan
terus memperbaiki diri agar tidak terjerumus kedalam jurang yang sama untuk
kesekian kalinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar