Jumat, 11 September 2015

Terjerat Hubungan Terlarang



Kisah nyata berikut ini dituturkan oleh seorang gadis yang akhirnya menemukan kembali jalan hidupnya setelah sempat jatuh kelembah maksiat. Adapun nama dan alamat tokoh yang bersangkutan hanya rekaan saja (disamarkan). 
Perkenalkan namaku Desi, kisah ini berawal Setelah orangtuaku memutuskan berpisah. Saat itu mama mengajakku pindah kekota hujan dengan maksud ingin melupakan kenangan pahit yang pernah kami alami. Sejak kepindahaku kekota ini dan memasuki sekolah baru, aku sama sekali tidak memiliki teman karena memang tidak ada satupun yang kukenal. Semua tampak asing bagiku.
Tapi keadaan itu tak bertahan lama, setelah aku mengenal Reni. dia sangat cantik,baik, ramah, dan ternyata memiliki latar belakang yang sama denganku. sama-sama berasal dari keluarga brokenhome. Tak heran jika kami cepat akrab dan selalu nyambung jika sedang mendiskusikan berbagai hal. Termasuk masalah keluarga. Mungkin alasan itulah yang membuatku merasa nyaman jika bersamanyanya. Aku seolah mendapatkan apa yang selama ini tak kudapatkan dari orangtuaku. Reni begitu mengerti kondisiku dan selalu ada saat aku membutuhkannya. Setiap bersama, aku seperti melihat adanya perasaan cinta dimatanya. Perasaan yang aku rasa bukan selayaknya seorang sahabat melainkan seorang kekasih yang ingin selalu memiliki. Namun aku tak berani menanyakannya, aku takut dia tersinggung dan tak lagi mau bersahabat denganku. aku juga takut dia meninggalkanku seperti papa meninggalkan mama dan aku.
Beberapa bulan berlalu kamipun telah naik kekelas dua/XI, tapi aku masih tetap dengan rasa penasaranku terhadap sikap reni yang semakin menunjukkan adanya perasaan khusus terhadapku. “ya des, aku sayang sama kamu lebih dari seorang sahabat dan aku yakin kamu pasti juga merasakan hal yang sama.” Ungkapnya. Anehnya aku justru merasa sangat senang mendengarnya, kamipun akhirnya menjalin cinta terlarang. Kami benar-benar menikmati hubungan ini dan tanpa kusadari kami telah melampui batas. Reni memang wanita spesialku, dia mampu mengobati luka hati akibat peristiwa buruk yang terjadi dikeluargaku. Aku sangat mencintainya dan tak ingin kehilangan dia begitupun sebaliknya.
Hubungan kami terus berjalan hingga kami sama-sama menjadi mahasiswa. Sayangnya aku dan reni kuliah ditempat yang berbeda, aku kuliah di ITB sedangkan reni di STSI Bandung. Singkat cerita aku mengenal wahyu, asisten dosen yang juga menjabat sebagai ketua salah satu organisasi dikampus. Tak butuh waktu lama untuk saling mengenal, kamipun resmi berpacaran. Kendati demikian hubunganku dengan reni juga masih tetap berlanjut meski aku harus berusaha keras mencari berbagai alasan agar bisa menghindar darinya. Namun yang namanya menyimpan daging busuk pastilah akan tercium juga baunya. Reni yang mengetahui hubunganku dengan wahyu merasa sangat pupus. Sakit hati tak mampu lagi dibendungnya,marah dan kecewa bercampur jadi satu tak hanya denganku tapi juga dengan wahyu. Berbagai macam teror dan ancaman sering kali dilayangkannya untukku. Merasa tidak tenang dan terus dihantui rasa bersalah membuatku akhirnya kembali kepada reni. Namun situasi itu tidaklah bertahan lama, aku justru semakin merasa tidak tenang dan ragu dengan perasaanku sendiri. “semua keputusan sekarang ada ditanganmu, mintalah petunjuk kepada Allah agar kamu tidak tersesat” kata wahyu. Dengan bimbingan wahyu aku melakukan solat istikharah untuk menentukan pilihanku yaitu menjadi lesbian sejati atau kembali menjadi wanita normal.
Beberapa hari kemudian aku benar-benar memutuskan hubungan ku dengan Reni. Aku tahu tak ada perpisahan yang tak beruai air mata. Namun jika niat hati telah bulat untuk mengubah hidup memang diperlukan pengorbanan. Berkat dorongan dari wahyu pula aku mengakui kekhilafanku dihadapan mama. Ibarat petir yang menyambar, badan mama gemeteran dan lemas seperti mau jatuh. “Desi pengen sembuh Ma tapi desi bingung harus ngapain?” kataku. Mendengar pengakuanku, tangis mama mulai mengembang tanpa bisa dibendung lagi, akupun larut dalam kesedihan itu, seraya menangis kami berpelukan.
Sejak mendengar pengakuanku malam itu, mama mulai mencari informasi terkait kelainan yang kualami. Berbagai cara juga ditempuh untuk mempercepat penyembuhanku. Dan informasipun didapat, salah seorang teman mama menyarankan untuk membawaku ke tempat ustadz massar untuk diruqyah. Alhamdulillah saran itu cukup membantu kami, sepulang dari tempat beliau aku mencoba melakukan berbagai ibadah dan terus memperbaiki diri agar tidak terjerumus kedalam jurang yang sama untuk kesekian kalinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar