Senin, 01 Oktober 2012

Mendidik anak dengan ruqyah


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
            Ustadz Massar yang terhormat, saya seorang wanita karir begitu juga dengan suami saya, seorang bisnismen yang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Karena kesibukan kami berdua, kami sepakat menunda untuk mempunyai momongan dengan mengikuti program KB. Akan tetapi tanpa kami duga, saya tetap mengandung.
            Setelah melahirkan kami menjadi bingung untuk merawatnya, kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Akhirnya kami memutuskan untuk dirawat oleh nenek kami di kampung. Disamping mengurangi beban kami, diharapkan dapat terhindar dari pergaulan kota yang tercemar.
            Setelah umur sepuluh tahun kami ambil kembali untuk hidup bersama kami. Akan tetapi semenjak di kota, pergaulannya menjadi tidak terkontrol dan menjadi nakal serta sering melawan orang tua. Kami merasa putus asa untuk mengajarinya. Meskipun begitu, ketika bertemu dengan neneknya putra kami menjadi penurut, kami tidak tahu apakah itu pura-pura atau tidak. Kami berniat untuk mengembalikannya kepada nenek kami, akan tetapi kami merasa berdosa karena selama ini belum pernah merawatnya. Mohon solusi untuk kebaikan anak kami.

                                                                                                            Jihan P. Semarang

Wassalamu’aliakum Wr. Wb.
            Ibu Jihan yang terhormat, pada dasarnya menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Baik buruknya seorang anak tergantung kepada kedua orang tuanya. Sebagaimana contoh dalam al Quran surat Luqman. ”Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (31:17).
            Nasehat yang diberikan Luqman kepada anaknya merupakan bentuk keharusan orang tua memberikan arahan bagi anak mereka. Anak bagaikan lembaran putih yang siap diisi tulisan baik atau buruk. Perlu diingat bahwa keterkaitan darah akan sangat mempengaruhi psikologis seorang anak, khususnya seorang ibu.
Penekanan lain sebagaimana dalam al Quran surat at Tahrim. ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(66:6).
Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menjaga keluarganya masing-masing dari api neraka. Dalam hal ini analogi yang paling tepat adalah menjaga keluarga dari perangai yang tidak terpuji. Bagaimanapun caranya perbaikan mental bagi anak mutlak diharuskan semenjak dini. Bagaikan pohon yang masih kecil dapat dibentuk sesuai dengan keinginan, sebaliknya ketika sudah besar akan sangat sulit.
Adapun perihal putra ibu yang nakal dapat dilakukan bimbingan intensif. terkecuali apabila hal tersebut tidak berhasil, maka ibu bisa melakukan ruqyah yang biasa dilakukan di tempat kami. Pada dasarnya kenakalan seorang anak masih bisa ditolelir kecuali sampai melakukan hal-hal yang dianggap kurang wajar seperti memukul atau melawan orang tua.
Sekedar motifasi untuk Ibu dan bapak, bahwa anak merupakan karunia Allah yang begitu berharga, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaganya. Alangkah bahagianya apabila ada seorang yang memiliki anak sholeh yang akan mendoakan kita setelah kita tiada. Perlu diketahui juga, bahwa anak kita bisa menjadi rahmat atau menjadi fitnah. Maka untuk menjadikan putra kita sebagai rahmat sudah sepatutnya sebagai orang tua selalu membimbingnya kepada jalan yang benar.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar