Masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sudah
mendekati separuh masa dari dua bulan sesuai jadwal kalender akademik kampus. Hari-hari
KKN aku lewati dengan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Begitulah, KKN
memang dimaksudkan untuk mengasah jiwa sosial mahasiswa agar berbaur dan
berinteraksi dengan masyarakat. Mahasiswa tidak sekadar berkutat dengan segenap
diskursus teoretis yang diperoleh di ruang perkuliahan. Ada ilmu yang musti
diimplementasikan dalam kehidupan nyata lewat pengabdian kepada masyarakat.
Aku berusaha semaksimal mungkin
memanfaatkan masa KKN dengan baik. Tiap individu dalam satu tim KKN yang
terdiri dari 12 orang berusaha malaksanakan program yang telah dirancang sesuai
dengan mandat dari perguruan tinggi. Pagi hari aku membantu mengajar di sebuah
sekolah dasar (SD) yang memang kekurangan guru. Sedangkan pada sore harinya,
aku mengajar di madrasah diniyah yang menempati gedung SD tersebut.
Aku jadi tahu bahwa ternyata di desa
memang banyak sekolah yang “merana”. Atap yang bocor, guru yang minim, murid
berseragam kumal tanpa sepatu, dan perpustakaan dengan sedikit buku. Kualitas
pendidikan yang memadai belum tersebar merata. Pendidikan yang berkualitas dan
bisa dijangkau semua kalangan seolah hanya tertulis di atas kertas sebagai
cita-cita yang tak seindah realita.
Selama KKN, aku dan teman-teman
tinggal serumah dengan kepala desa. Kami menjalani hari-hari demi mengejar
target program yang telah disepakati bersama. Mengecat gapura, mendirikan taman
baca, mengadakan bazar sembako murah, santunan kepada yatim piatu, aneka lomba,
memasang papan nama bagi jalan dan gang masuk kampung, sampai penyuluhan
kesehatan dan pengobatan gratis.
Secara
pribadi, aku merasa senang dan nyaman menjalani semua itu sampai suatu hari
yang tak kan pernah bisa kulupakan itu tiba. Sepucuk surat bersampul warna pink
disodorkan padaku.
“Aku mendapatkan amanah dari Kyai
Mahmud langsung agar menyerahkan surat ini padamu Rin,” ujar Yanto, teman satu
tim.
“Surat apa ini To?” tanyaku heran.
“Aku tidak tahu Rin, kamu buka saja
lalu baca isinya.”
Aku penasaran dan segera saja aku
bergegas menuju kamar lalu kubuka. Aroma wangi semerbak menyeruak ke seluruh
penjuru ruangan kamar. Sejenak aku mengamati huruf demi huruf yang ditulis
dengan tinta hitam. Kepalaku pusing dan aku tak ingat apa-apa. Tiba-tiba
semuanya menjadi gelap. Aku tertidur atau mungkin lebih tepatnya pingsan.
Semenjak itulah tubuhku panas dingin
menggigil tak karuan. Bayangan wajah Kyai Mahmud yang berusia paruh baya itu selalu
hadir di setiap ku mengarahkan pandangan. Hatiku berontak tapi pikiranku tak
bisa kulawan. Sosok Kyai Mahmud yang sudah lama menduda karena istrinya
meninggal itu senantiasa hadir dalam pikiranku. Payah. Dalam tidur pun aku
mengigau menyebut namanya. Terakhir aku bertemu dengannya usai mengajar
Madrasah Diniyah. Saat itulah dengan tegas aku menolak cintanya. Aku tak punya
alasan selain berkata jujur bahwa aku telah bertunangan dengan lelaki pilihan
orang tuaku.
“Kamu harus minum obat yang diberikan
dokter yang tadi memeriksamu. Aku akan menemui Ustad Massar agar berkenan ke
sini,” kata Pak Lurah.
“Iya Pak, terima kasih.”
Aku tertidur dan saat terbangun aku
melihat tiga pemuda yang kemudian ku ketahui sebagai Ustad Massar dan kedua
asistennya.
“Kamu telah terkena guna-guna ilmu
pelet hitam. Jangan khawatir, disaksikan oleh Pak Lurah dan kedua temanmu, kami
telah melakukan terapi Ruqyah Diri padamu dan kini pengaruh pelet itu
sudah lenyap,” jelas Ustad Massar. “Jangan lupa menjaga sholat lima waktu dan
membaca Al Qur’an,” imbuhnya.
Alhamdulillah, pantas saja tubuhku
terasa ringan, tidak demam dan pusingku hilang. Ada pelajaran yang dapat
kupetik bahwa rasa tidak suka kepada orang lain tidak harus dengan terang
diucapkan apalagi diwujudkan dengan perbuatan. Menghindari pertemuan bisa
menjadi pilihan menuju keselamatan dengan diiringi do’a agar semua baik-baik
saja. Saat orang tuaku yang berprofesi sebagai kontraktor dan dosen mendengar
kisahku ini, segera mereka menemui Ustad Massar dan mendonasikan Rp 60
juta untuk Yayasan Kasih Kita Nusantara
yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan bagi mereka yang kurang mampu.
(Sebagaimana diceritakan oleh Rina,
bukan nama sebenarnya, dari Yogyakarta)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar