Rabu, 03 Desember 2014

Akibat Cinta Ditolak




Masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sudah mendekati separuh masa dari dua bulan sesuai jadwal kalender akademik kampus. Hari-hari KKN aku lewati dengan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Begitulah, KKN memang dimaksudkan untuk mengasah jiwa sosial mahasiswa agar berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat. Mahasiswa tidak sekadar berkutat dengan segenap diskursus teoretis yang diperoleh di ruang perkuliahan. Ada ilmu yang musti diimplementasikan dalam kehidupan nyata lewat pengabdian kepada masyarakat.
Aku berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan masa KKN dengan baik. Tiap individu dalam satu tim KKN yang terdiri dari 12 orang berusaha malaksanakan program yang telah dirancang sesuai dengan mandat dari perguruan tinggi. Pagi hari aku membantu mengajar di sebuah sekolah dasar (SD) yang memang kekurangan guru. Sedangkan pada sore harinya, aku mengajar di madrasah diniyah yang menempati gedung SD tersebut.
Aku jadi tahu bahwa ternyata di desa memang banyak sekolah yang “merana”. Atap yang bocor, guru yang minim, murid berseragam kumal tanpa sepatu, dan perpustakaan dengan sedikit buku. Kualitas pendidikan yang memadai belum tersebar merata. Pendidikan yang berkualitas dan bisa dijangkau semua kalangan seolah hanya tertulis di atas kertas sebagai cita-cita yang tak seindah realita.
Selama KKN, aku dan teman-teman tinggal serumah dengan kepala desa. Kami menjalani hari-hari demi mengejar target program yang telah disepakati bersama. Mengecat gapura, mendirikan taman baca, mengadakan bazar sembako murah, santunan kepada yatim piatu, aneka lomba, memasang papan nama bagi jalan dan gang masuk kampung, sampai penyuluhan kesehatan dan pengobatan gratis.
   Secara pribadi, aku merasa senang dan nyaman menjalani semua itu sampai suatu hari yang tak kan pernah bisa kulupakan itu tiba. Sepucuk surat bersampul warna pink disodorkan padaku.
“Aku mendapatkan amanah dari Kyai Mahmud langsung agar menyerahkan surat ini padamu Rin,” ujar Yanto, teman satu tim.
“Surat apa ini To?” tanyaku heran.
“Aku tidak tahu Rin, kamu buka saja lalu baca isinya.”
Aku penasaran dan segera saja aku bergegas menuju kamar lalu kubuka. Aroma wangi semerbak menyeruak ke seluruh penjuru ruangan kamar. Sejenak aku mengamati huruf demi huruf yang ditulis dengan tinta hitam. Kepalaku pusing dan aku tak ingat apa-apa. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Aku tertidur atau mungkin lebih tepatnya pingsan.
Semenjak itulah tubuhku panas dingin menggigil tak karuan. Bayangan wajah Kyai Mahmud yang berusia paruh baya itu selalu hadir di setiap ku mengarahkan pandangan. Hatiku berontak tapi pikiranku tak bisa kulawan. Sosok Kyai Mahmud yang sudah lama menduda karena istrinya meninggal itu senantiasa hadir dalam pikiranku. Payah. Dalam tidur pun aku mengigau menyebut namanya. Terakhir aku bertemu dengannya usai mengajar Madrasah Diniyah. Saat itulah dengan tegas aku menolak cintanya. Aku tak punya alasan selain berkata jujur bahwa aku telah bertunangan dengan lelaki pilihan orang tuaku.
“Kamu harus minum obat yang diberikan dokter yang tadi memeriksamu. Aku akan menemui Ustad Massar agar berkenan ke sini,” kata Pak Lurah.
“Iya Pak, terima kasih.”
Aku tertidur dan saat terbangun aku melihat tiga pemuda yang kemudian ku ketahui sebagai Ustad Massar dan kedua asistennya.
“Kamu telah terkena guna-guna ilmu pelet hitam. Jangan khawatir, disaksikan oleh Pak Lurah dan kedua temanmu, kami telah melakukan terapi Ruqyah Diri padamu dan kini pengaruh pelet itu sudah lenyap,” jelas Ustad Massar. “Jangan lupa menjaga sholat lima waktu dan membaca Al Qur’an,” imbuhnya.
Alhamdulillah, pantas saja tubuhku terasa ringan, tidak demam dan pusingku hilang. Ada pelajaran yang dapat kupetik bahwa rasa tidak suka kepada orang lain tidak harus dengan terang diucapkan apalagi diwujudkan dengan perbuatan. Menghindari pertemuan bisa menjadi pilihan menuju keselamatan dengan diiringi do’a agar semua baik-baik saja. Saat orang tuaku yang berprofesi sebagai kontraktor dan dosen mendengar kisahku ini, segera mereka menemui Ustad Massar dan mendonasikan Rp 60 juta  untuk Yayasan Kasih Kita Nusantara yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan bagi mereka yang kurang mampu.
(Sebagaimana diceritakan oleh Rina, bukan nama sebenarnya, dari Yogyakarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar