Rabu, 07 Mei 2014

Memperbaiki Akhlak Anak




“Dirimu adalah cermin rumahmu” ungkapan tersebut sesuai dengan kondisi Shaleh saat ini. Anak seorang pengusaha kaya yang terlihat lebih miskin dari orang fakir sekalipun. Bukan karena materi yang dia tidak ada, akan tetapi akhlak dan perangainya yang membuat dirinya seperti orang yang tidak punya harta maupun ilmu. Baginya, memukul dan menghina merupakan kebiasaan sehari-hari yang bisa dijadikan tempat pelampiasan kemarahannya.
Tidak ada asap kalau tidak ada api, sifat jelek saleh yang suka mengintimidasi temannya ternyata pengaruh dari kehidupan keluarga yang tidak harmonis. Sebagai pebisnis, kedua orangtuanya terlalu sibuk untuk mengurusi Candra anak tunggalnya. Candra lebih banyak diurus pembantu dari pada orangtuanya sendiri. Hubungan kedua orangtuanyapun tidak lagi harmonis, hampir setiap hari Candra harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pertengkaran antara kedua orang tuanya yang dibumbui dengan kekerasan bahkan dirinya pun tak luput dari kemarahan mereka. Tak ayal, Kondisi tersebut telah membuat diri Candra menjadi orang yang keras dan tidak mempunyai belaskasihan.
Teguran demi teguran dari berbagai pihak ternyata tak mampu mengubah kebiasaan jelek Candra bahkan dia menjadi semakin brutal. Sampai suatu hari Candra terlibat percekcokan dengan salah satu temanya karena belum mengerjakan PR. “Kembalikan bukuku Dra” pinta Rangga teman sekelasnya. Sebagaimana biasa, merasa tidak terima Candra langsung mendaratkan pukulan keras di badannya. Perlawanan Rangga telah membuat Candra tambah kalap, tanpa perhitungan Candra langsung memukul kepala temannya dengan kayu yang dia temukan. Akibatnya Rangga mengalami pendarahan karena terluka parah dan harus segera mendapatkan bantuan medis.
Selamat siang, Mohon maaf ibu, apakah in rumah Candra? kami membawa surat penangkapan untuk Candra atas kasus penganiayaan yang dilakukan terhadap temannya di Sekolah ” ungkap polisi. Alangkah kagetnya kedua orang tua Candra mendengar hal tersebut. “sudah beberapa hari ini Candra belum pulang pak, pencarian yang kami lakukanpun belum membuahkan hasil.”dengan terisak sang ibu menjelaskan kepergian anaknya dari rumah yang belum kembali.
Setelah dilakukan pencarian selama beberapa hari, Candra akhirnya ditemukan dan segera dilakukan pemeriksaan di kepolisian. Candrapun dinyatakan bersalah dan harus mendekam di penjara selama beberapa minggu. Berharap sambutan hangat setelah bebas, sebaliknya Candra mendapatkan teguran keras “dasar anak tidak tahu di untung, bisanya cuma bikin malu orang tua saja!!” bentak sang ayah. Candra yang tak mampu lagi menahan gejolak hati yang selama ini dialaminya menitihkan air mata. Tanpa dikomando ibunya langsung mendekap Candra untuk melindunginya supaya tidak menjadi mangsa kekejaman sang ayah.
Telah seminggu berlalu, keadaan Candra semakin memburuk seiring dengan buruknya keadaan keluarganya.Tak tega melihat kondisi cucunya, sang nenek merasa iba dan berinisiatif untuk mendatangi ustadz Massar di Semarang untuk berkonsultasi terkait kondisi rumah tangga anaknya. Setelah mendapatkan arahan dari Ustadz Massar, sang nenek mengajak keluarga anaknya pergi menghadap Ustadz Massar esok harinya. “banyaklah berintrofeksi diri dan beribadah kepada Allah Swt” nasihat sang ustadz kala
itu. “saya akan bantu dari sini” tambahnya. Sesuai kesepakatan, akhirnya dilaksankanlah Ruqyah Diri bagi satu keluarga tersebut. Setelah satu bulan berlalu, dengan  dibimbing langsung oleh sang ustadz, keluarga Candra semakin hari semakin harmonis dan membaik yang secara langsung berdampak terhadap prilaku dan mentalnya yang menjadi baik juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar