“Dirimu adalah cermin rumahmu” ungkapan tersebut sesuai dengan
kondisi Shaleh saat ini. Anak seorang
pengusaha kaya yang terlihat lebih miskin
dari orang fakir sekalipun. Bukan karena materi yang dia tidak ada, akan tetapi
akhlak dan perangainya yang
membuat dirinya seperti orang yang tidak punya harta maupun ilmu. Baginya, memukul dan
menghina merupakan kebiasaan sehari-hari yang bisa dijadikan tempat pelampiasan
kemarahannya.
Tidak ada
asap kalau tidak ada api, sifat jelek saleh yang suka mengintimidasi temannya
ternyata pengaruh dari kehidupan keluarga yang tidak harmonis. Sebagai
pebisnis, kedua orangtuanya terlalu sibuk untuk mengurusi Candra anak tunggalnya. Candra lebih banyak diurus pembantu
dari pada orangtuanya sendiri.
Hubungan kedua orangtuanyapun tidak lagi harmonis, hampir setiap hari Candra harus menyaksikan dengan
mata kepalanya
sendiri pertengkaran antara kedua orang tuanya yang dibumbui dengan kekerasan bahkan dirinya pun tak luput dari kemarahan mereka. Tak ayal, Kondisi tersebut telah membuat diri Candra
menjadi orang yang keras dan tidak mempunyai belaskasihan.
Teguran
demi teguran dari berbagai pihak ternyata tak mampu
mengubah kebiasaan jelek Candra bahkan dia
menjadi semakin brutal. Sampai suatu hari Candra terlibat percekcokan dengan
salah satu temanya karena belum mengerjakan PR.
“Kembalikan bukuku Dra” pinta Rangga teman sekelasnya. Sebagaimana biasa, merasa
tidak terima Candra langsung
mendaratkan pukulan keras di badannya. Perlawanan Rangga telah membuat Candra tambah kalap, tanpa perhitungan
Candra langsung
memukul kepala temannya dengan kayu yang dia temukan. Akibatnya Rangga mengalami pendarahan karena terluka
parah dan harus segera mendapatkan
bantuan medis.
“Selamat siang, Mohon maaf ibu, apakah in rumah Candra? kami membawa surat penangkapan untuk Candra atas kasus
penganiayaan yang dilakukan terhadap temannya di Sekolah ”
ungkap polisi. Alangkah kagetnya kedua orang tua Candra
mendengar hal tersebut. “sudah
beberapa hari ini Candra belum pulang pak, pencarian yang kami lakukanpun belum
membuahkan hasil.”dengan terisak sang ibu menjelaskan
kepergian anaknya dari
rumah yang belum
kembali.
Setelah
dilakukan pencarian selama beberapa hari, Candra akhirnya ditemukan dan segera dilakukan pemeriksaan di kepolisian. Candrapun dinyatakan bersalah dan harus mendekam
di penjara selama beberapa minggu.
Berharap sambutan hangat setelah bebas,
sebaliknya Candra
mendapatkan teguran keras “dasar anak tidak tahu di untung, bisanya cuma bikin malu orang tua saja!!”
bentak sang ayah. Candra yang
tak mampu lagi menahan gejolak hati yang selama ini
dialaminya menitihkan air mata. Tanpa dikomando ibunya langsung mendekap Candra untuk melindunginya supaya tidak menjadi mangsa kekejaman sang ayah.
Telah
seminggu berlalu, keadaan Candra semakin
memburuk
seiring dengan buruknya keadaan keluarganya.Tak tega
melihat kondisi cucunya, sang nenek merasa iba dan berinisiatif untuk mendatangi ustadz Massar di Semarang untuk berkonsultasi terkait kondisi rumah tangga anaknya.
Setelah mendapatkan
arahan dari Ustadz Massar, sang
nenek mengajak keluarga anaknya pergi
menghadap Ustadz Massar esok harinya.
“banyaklah berintrofeksi diri dan beribadah kepada Allah Swt” nasihat sang
ustadz kala
itu.
“saya akan bantu
dari sini” tambahnya. Sesuai kesepakatan, akhirnya
dilaksankanlah Ruqyah Diri bagi satu keluarga tersebut. Setelah satu
bulan berlalu, dengan dibimbing langsung
oleh sang ustadz, keluarga Candra
semakin hari semakin harmonis dan membaik yang secara langsung berdampak
terhadap prilaku dan mentalnya
yang menjadi baik juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar