Sebut saja Rusdi laki-laki paruh baya ( 49 th ) merupakan orang
terkaya dan terkenal kikir di kampungnya dengan 4 orang istri. Ratusan hektar
tanahnya tersebar di berbagai desa mulai dari sawah, tegalan sampai beberapa
rumah yang digunakan untuk usaha penggilingan padi. Dengan kekayaanya itulah ia
bisa dengan mudah menggaet setiap wanita cantik
untuk dijadikan sebagai istri ataupun sekedar untuk bersenang-senang. Salah satunya adalah Diah ( 20 ) Istri termuda
yang baru 2 bulan dinikahinya.
“ Pak, bagaimana kalau kita membantu biaya sekolah wati ? Kasihan
dia kan sudah tak punya orangtua, sedang
nenek yang mengasuhnya juga sudah tua “saran Tuti istri tertua Rusdi.
“ Ah.. gak usah lah buat apa kita repot-repot ngurusi orang lain “
Jawab Rusdi sekenanya.
Hati Tuti begitu teriris-iris setiap kali Rusdi menolak
permintaannya untuk membantu tetangga yang kurang mampu. Sebaliknya Rusdi lebih
senang menghambur-hamburkan uang untuk berfoya-foya dan memanjakan Diah.
Pagi itu Rusdi sudah bersiap-siap berangkat menemui salah satu
rekan bisnisnya di sebuah restoran, namun langkahnya terhenti oleh suara nenek
tua yang memanggil namanya.
" Pak Rusdi, cucuku sakit keras, bolehkah saya menumpang mobil
Bapak untuk ke rumah sakit? ", pinta nenek Tinah.
"Aku ada urusan yang
lebih penting, suruh orang lain saja", jawab Rusdi kesal lalu bergegas
menaiki mobil Jeep Cherokee kesayanganya.
"Mak Tinah,, maafkan suami saya ya. Ini saya bawa uang untuk
berobat Wati, saya ikhlas", ucap Tuti yang menghentikan langkah mak Tinah.
Kebaikan Tuti kepada para tetangga yang kurang mampu, ternyata
sampai juga ketelinga Rusdi hingga membuat dia marah dan berang.
“Kamu pikir itu uang nenek
moyangmu, seenaknya saja dibagi-bagikan keorang lain!!!!” suara Rusdi serasa
menggelegar
“ Mas, harta yang kita miliki itu adalah titipan dari Tuhan,
sebagiannya ada hak orang lain.Tak ada salahnya kita membantu orang-orang yang
membutuhkan ” ucap Tuti sambil berlinang air mata.
“Terserah kamu mau ngomong apa!! Yang jelas aku gak suka kamu
memanjakan orang-orang miskin itu!”Hardik Rusdi.
Tuti yang merasa tak
sepaham dengan suaminya memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya. Setelah
Kepergian Tuti, Diah sebagai istri termuda merasa menang karena saingan
terberatnya sudah tidak ada. Kepercayaan penuh yang diberikan Rusdi kepada Diah
semakin membuatnya berkuasa dan berhasil membuat seisi rumah tunduk pada
perintahnya.
Perjalanan hidup nampaknya bisa diibaratkan roda pedati yang selalu
berputar yang terus bergulir meniti dibumi. Bagian dari roda tersebut kadang
berada diatas dan terkadang berada dibawah begitu pula dengan kehidupan Rusdi.
Suatu ketika dia jatuh sakit, sekujur tubuhnya muncul benjolan bernanah dan
berdarah. Diapun harus merogoh koceh dalam hanya untuk berobat baik ke dokter
maupun ke pengobatan alternatif namun penyakitnya tak kunjung sembuh juga.
Mengetahui kejadian
yang menimpa suaminya, Tuti merasa ikut prihatin dan mengambil inisiatif untuk
membawa suaminya berobat pada seorang Ustadz di kota Lumpia Semarang, seorang
pakar agama yang ahli dalam merukyah yaitu Ustadz Massar. Beliau menjelaskan
bahwa penyakit yang diderita Rusdi merupakan buah dari perbuatannya sendiri
yang suka mendzolimi orang, saat itu juga Beliau melaksanakan Ruqyah
pembersihan diri atas Rusdi dan beberapa hari kemudian dilakukan ruqyah
pembersihan hati dan jiwanya untuk menghilangkan sifat-sifat yang kurang baik
dalam diri Rusdi. Tak lupa Beliau juga berpesan kepada Rusdi agar melaksanakan
sholat lima waktu yang selama ini jarang dilakukan olehnya dan mau berbagi
kepada sesama yang membutuhkan pertolongannya.
Seiring berjalannya waktu, Rusdi telah menjadi manusia yang baru
dengan arahan dan bimbingan Ustadz Massar. Kini Rusdi dapat kembali hidup
harmonis bersama ketiga istri dan anak-anaknya. Namun tidak dengan Diah, dia
harus menelan kekecewaan karena diceraikan oleh Rusdi setelah terbukti
berkhianat dan hanya ingin menguras hartanya saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar