Selasa, 13 Mei 2014

MENGHILANGKAN SIFAT KIKIR DENGAN RUQYAH




Sebut saja Rusdi laki-laki paruh baya ( 49 th ) merupakan orang terkaya dan terkenal kikir di kampungnya dengan 4 orang istri. Ratusan hektar tanahnya tersebar di berbagai desa mulai dari sawah, tegalan sampai beberapa rumah yang digunakan untuk usaha penggilingan padi. Dengan kekayaanya itulah ia bisa dengan mudah menggaet setiap wanita cantik  untuk dijadikan sebagai istri ataupun sekedar untuk bersenang-senang.  Salah satunya adalah Diah ( 20 ) Istri termuda yang baru 2 bulan dinikahinya.
“ Pak, bagaimana kalau kita membantu biaya sekolah wati ? Kasihan dia kan sudah tak punya orangtua,  sedang nenek yang mengasuhnya juga sudah tua “saran Tuti istri tertua Rusdi.
“ Ah.. gak usah lah buat apa kita repot-repot ngurusi orang lain “ Jawab Rusdi sekenanya.
Hati Tuti begitu teriris-iris setiap kali Rusdi menolak permintaannya untuk membantu tetangga yang kurang mampu. Sebaliknya Rusdi lebih senang menghambur-hamburkan uang untuk berfoya-foya dan memanjakan Diah.
Pagi itu Rusdi sudah bersiap-siap berangkat menemui salah satu rekan bisnisnya di sebuah restoran, namun langkahnya terhenti oleh suara nenek tua yang memanggil namanya.
" Pak Rusdi, cucuku sakit keras, bolehkah saya menumpang mobil Bapak untuk ke rumah sakit? ", pinta nenek Tinah.
"Aku ada urusan  yang lebih penting, suruh orang lain saja", jawab Rusdi kesal lalu bergegas menaiki mobil Jeep Cherokee kesayanganya.
"Mak Tinah,, maafkan suami saya ya. Ini saya bawa uang untuk berobat Wati, saya ikhlas", ucap Tuti yang menghentikan langkah mak Tinah.
Kebaikan Tuti kepada para tetangga yang kurang mampu, ternyata sampai juga ketelinga Rusdi hingga membuat dia marah dan berang.
 “Kamu pikir itu uang nenek moyangmu, seenaknya saja dibagi-bagikan keorang lain!!!!” suara Rusdi serasa menggelegar
“ Mas, harta yang kita miliki itu adalah titipan dari Tuhan, sebagiannya ada hak orang lain.Tak ada salahnya kita membantu orang-orang yang membutuhkan ” ucap Tuti sambil berlinang air mata.
“Terserah kamu mau ngomong apa!! Yang jelas aku gak suka kamu memanjakan orang-orang miskin itu!”Hardik Rusdi.
         Tuti yang merasa tak sepaham dengan suaminya memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya. Setelah Kepergian Tuti, Diah sebagai istri termuda merasa menang karena saingan terberatnya sudah tidak ada. Kepercayaan penuh yang diberikan Rusdi kepada Diah semakin membuatnya berkuasa dan berhasil membuat seisi rumah tunduk pada perintahnya.
Perjalanan hidup nampaknya bisa diibaratkan roda pedati yang selalu berputar yang terus bergulir meniti dibumi. Bagian dari roda tersebut kadang berada diatas dan terkadang berada dibawah begitu pula dengan kehidupan Rusdi. Suatu ketika dia jatuh sakit, sekujur tubuhnya muncul benjolan bernanah dan berdarah. Diapun harus merogoh koceh dalam hanya untuk berobat baik ke dokter maupun ke pengobatan alternatif namun penyakitnya tak kunjung sembuh juga.
         Mengetahui kejadian yang menimpa suaminya, Tuti merasa ikut prihatin dan mengambil inisiatif untuk membawa suaminya berobat pada seorang Ustadz di kota Lumpia Semarang, seorang pakar agama yang ahli dalam merukyah yaitu Ustadz Massar. Beliau menjelaskan bahwa penyakit yang diderita Rusdi merupakan buah dari perbuatannya sendiri yang suka mendzolimi orang, saat itu juga Beliau melaksanakan Ruqyah pembersihan diri atas Rusdi dan beberapa hari kemudian dilakukan ruqyah pembersihan hati dan jiwanya untuk menghilangkan sifat-sifat yang kurang baik dalam diri Rusdi. Tak lupa Beliau juga berpesan kepada Rusdi agar melaksanakan sholat lima waktu yang selama ini jarang dilakukan olehnya dan mau berbagi kepada sesama yang membutuhkan pertolongannya.
Seiring berjalannya waktu, Rusdi telah menjadi manusia yang baru dengan arahan dan bimbingan Ustadz Massar. Kini Rusdi dapat kembali hidup harmonis bersama ketiga istri dan anak-anaknya. Namun tidak dengan Diah, dia harus menelan kekecewaan karena diceraikan oleh Rusdi setelah terbukti berkhianat dan hanya ingin menguras hartanya saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar