Semua orang yang mengantarkan jenazah Made bingung karena tanah
makamnya seolah terus menyempit meski berulang kali diluaskan. Usut punya usut
ternyata made termasuk anak durhaka terhadap orang tuanya.
Apa yang sesungguhnya terjadi
pada orang ini/Mengapa saat ia telah meninggal masih juga menyusuahkan orang
lain yang mengebumikannya?. Dialah Made pria kelahiran Pulau Dewata, berasal
dari keluarga kaya dan terhormat. Sebagai anak semata wayang, apapun yang dia
inginkan selalu dipenuhi. Bahkan dari awal semua harta berupa rumah dan
beberapa hektar tanah telah berbalik nama atas nama Made. Sampai akhirnya, Made
memasuki masa remaja. “ Bapak dan Ibu sudah saatnya saya melangsungkan pernikahan dengan gadis yang menjadi pilihan
saya, “ ucap made kepada kedua orang tuanya. Pernyataan yang tiba-tiba
itu mau tak mau membuat kedua orang tuanya kaget dan juga heran. “ Kamu kenapa
nak, baru kelas dua SMA tiba-tiba ingin menikah? “ tanya kedua orang tuanya. “
Pokoknya saya ingin menikah, terserah apapun itu alasanya ” jawab Made dengan
nada tinggi.
Awal Prahara
Dari perkataannya, kedua orang
tua Made mengerti bahwa anaknya sedang dalam
masalah. Karena curiga, keduanya menanyakan kembali kejelasanya “ apa kamu
menghamili seorang gadis nak? “. “ Ya “ jawab Made singkat. Kedua orang tua
Made akhirnya menyetujui pernikahkan Made
dengan gadis pilihannya . Namum alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui
bahwa calon istri putranya adalah seorang janda yang umurnya lebih tua sepuluh
tahun dari Made. Setelah menikah,
perilaku madepun berubah drastis. Apapun yang keinginan istrinya harus selalu dituruti.
Pengaruh jahat istrinya yang ternyata adalah mantan wanita tuna susila telah
membuat made melupakan Tuhannya. “ Hidup
ini untuk dinikmati suamiku ” bujuk istri Made ketika mereka sama-sama melakukan
perbuatan maksiat berjudi dan minum-minunan keras. Karena selalu hidup dengan berfoya-foya,
lambat laun harta Made yang tadinya banyak menjadi ludes.
Akhirnya made memutuskan untuk
kembali ke rumah orang tuanya dan tinggal bersamanya. Namun pengaruh buruk
istrinya membuat Made mulai berani berbuat kurang ajar kepada orang tuanya. “, Ibu juga harus menghormati
juwita sebagai menantu “ bentak Made kala ibunya mencoba menasehati menantunya
karena perilakunya yang kurang sopan. Karena merasa mertuanya tak menyukainya, istri
Madepun mengajak suaminya keluar dari rumah tersebut. Made yang merasa marah
dan tersinggungpun akhirnya berani memarahi dan mengusir kedua orang tuanya. “
Kalau Ibu dan Bapak tidak suka terhadap kami lebih baik ibu dan bapak keluar saja
dari rumah ini !!! ”. Mendengar
perkataan tersebut, kedua kedua orang tua
made seperti disambar petir. Kasih sayang yang selama ini diberikan,
dibalas dengan caci maki dan pengusiran oleh anaknya. Dengan hati perih kedua
orang tua Made meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi kelahiran Made dan pindah
ke rumah mereka yang lain. “ Buka masalah
harta atau rumah yang kami sesali, tapi pengusiran Made kepada kami yang sangat menyakitkan “
ratap keduanya kepada salah satu tetangga yang kebetulan melihatnya. Kabar terakhir yang didengar orang tuanya
bahwa Made telah menjual rumahnya dan pindah tidak tahu rimbanya. Kabar
memilukanpun akhirnya diterima oleh kedua orang tuanya. Made mengalami kecelakaan
saat selesai melakukan pesta miras bersama istri dan teman-temannya yang
membuatnya meninggal seketika. Jenazah Made
rusak parah dan hampir tak dapt dikenali karena tubuh dan mukanya hancur.
Penyesalan sudah terlambat, Made masih membawa
dosa pada orang tuanya pada saat ajal menjemput.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar