Selasa, 27 Mei 2014

Anak Durhaka Mati makam Menyempit




Semua orang yang mengantarkan jenazah Made bingung karena tanah makamnya seolah terus menyempit meski berulang kali diluaskan. Usut punya usut ternyata made termasuk anak durhaka terhadap orang tuanya.
Apa yang sesungguhnya terjadi pada orang ini/Mengapa saat ia telah meninggal masih juga menyusuahkan orang lain yang mengebumikannya?. Dialah Made pria kelahiran Pulau Dewata, berasal dari keluarga kaya dan terhormat. Sebagai anak semata wayang, apapun yang dia inginkan selalu dipenuhi. Bahkan dari awal semua harta berupa rumah dan beberapa hektar tanah telah berbalik nama atas nama Made. Sampai akhirnya, Made memasuki masa remaja. “ Bapak dan Ibu sudah saatnya saya melangsungkan  pernikahan dengan gadis yang menjadi pilihan saya, “ ucap  made kepada  kedua orang tuanya. Pernyataan yang tiba-tiba itu mau tak mau membuat kedua orang tuanya kaget dan juga heran. “ Kamu kenapa nak, baru kelas dua SMA tiba-tiba ingin menikah? “ tanya kedua orang tuanya. “ Pokoknya saya ingin menikah, terserah apapun itu alasanya ” jawab Made dengan nada tinggi.
Awal Prahara
Dari perkataannya, kedua orang tua Made mengerti bahwa anaknya sedang  dalam masalah. Karena curiga, keduanya menanyakan kembali kejelasanya “ apa kamu menghamili seorang gadis nak? “. “ Ya “ jawab Made singkat. Kedua orang tua Made  akhirnya menyetujui pernikahkan Made dengan gadis pilihannya . Namum alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa calon istri putranya adalah seorang janda yang umurnya lebih tua sepuluh tahun dari Made. Setelah  menikah, perilaku madepun berubah drastis. Apapun yang keinginan istrinya harus selalu dituruti. Pengaruh jahat istrinya yang ternyata adalah mantan wanita tuna susila telah membuat made melupakan  Tuhannya. “ Hidup ini untuk dinikmati suamiku ” bujuk istri Made ketika mereka sama-sama melakukan perbuatan maksiat berjudi dan minum-minunan keras. Karena selalu hidup dengan berfoya-foya, lambat laun harta Made yang tadinya banyak menjadi ludes.
Akhirnya made memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya dan tinggal bersamanya. Namun pengaruh buruk istrinya membuat Made mulai berani berbuat kurang ajar kepada  orang tuanya. “, Ibu juga harus menghormati juwita sebagai menantu “  bentak  Made kala ibunya mencoba menasehati menantunya karena perilakunya yang kurang sopan. Karena merasa mertuanya tak menyukainya, istri Madepun mengajak suaminya keluar dari rumah tersebut. Made yang merasa marah dan tersinggungpun akhirnya berani memarahi dan mengusir kedua orang tuanya. “ Kalau Ibu dan Bapak tidak suka terhadap kami lebih baik ibu dan bapak keluar saja dari rumah ini  !!! ”. Mendengar perkataan tersebut, kedua kedua orang tua  made seperti disambar petir. Kasih sayang yang selama ini diberikan, dibalas dengan caci maki dan pengusiran oleh anaknya. Dengan hati perih kedua orang tua Made meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi kelahiran Made dan pindah ke rumah mereka yang lain.  “ Buka masalah harta atau rumah yang kami sesali, tapi pengusiran  Made kepada kami yang sangat menyakitkan “ ratap keduanya kepada salah satu tetangga yang kebetulan melihatnya.  Kabar terakhir yang didengar orang tuanya bahwa Made telah menjual rumahnya dan pindah tidak tahu rimbanya. Kabar memilukanpun akhirnya diterima oleh kedua orang tuanya. Made mengalami kecelakaan saat selesai melakukan pesta miras bersama istri dan teman-temannya yang membuatnya meninggal seketika.  Jenazah Made rusak parah dan hampir tak dapt dikenali karena tubuh dan mukanya hancur. Penyesalan sudah terlambat, Made masih membawa  dosa pada orang tuanya pada saat ajal menjemput.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar