Namaku
Mela,
siswi sekolah menengah atas di kotaku. Dengan latar belakang keluargaku yang kaya, aku
dapat melakukan apapun yang menjadi keinginanku. Orangtuaku memang selalu
disibukkan dengan Pekerjaan mereka hingga tak ada waktu untukku bahkan hanya
sekedar untuk sarapan pagi atau makan malam bersama. Hingga aku tumbuh menjadi
gadis yang haus kasih sayang orang tua.
“Pah coba lihat tagihan kartu kredit
Mela, masa
sampai 50 juta
bulan ini”protes mama pada papa. “ ah mama,
ngeluarin uang untuk anak aja kok perhitungan “ jawab papa yang tak mau ambil pusing.
Papa memang selalu meluluskan semua keinginanku tidak seperti mama yang agak
perhitungan. Buntutnya mereka akan saling ribut tentang diriku, Itu semua yang membuatku mencari
pelampiasan guna menuntaskan pikiran yang kalut. Dugem menjadi kebiasaan yang
sulit aku hilangkan. Nongkrong di kafe sepulang sekolah, malamnya ke diskotik,
menenggak alkohol, menghisap rokok, mengkonsumsi ekstasi, berjingkrak-jingkrak
dengan iringan musik DJ. Sungguh membuat diriku merasa senang. Kesenangan yang
kemudian aku ketahui sebagai kesenangan semu.
Sebagai gadis modern aku harus selalu
tampil up to date disetiap kesempatan tak terkecuali saat di sekolah.
Tak heran jika banyak teman-teman yang ingin mendekatiku begitupun dengan Pak
Hendar guru sains di sekolahku. Dia memang Tampan, gagah dan dewasa, meskipun telah memiliki dua anak. Aku pun merasa
nyaman jika berdekatan dengannya. Karena seringnya bertemu dan membantu
tugas-tugasku, membuat hubungan kami semakin intens. Akupun tak sungkan lagi untuk sharing
kepadanya tentang banyak hal termasuk masalah keluarga dan pribadiku. Aku seperti
mendapat perhatian dan kasih sayang yang tak kudapatkan dari orang tuaku. Tanpa
kusangka, rupanya Pak Hendar mempunyai niat jahat terhadapku. Usai pulang
sekolah dia sengaja menungguku dan mengajakku untuk makan siang di kafe, tanpa
kusadari ternyata dia telah mencampur minumanku dengan obat tidur.
Jantungku berdegub kencang dan emosiku
meledak nyaris tanpa kendali. Akupun menangis kencang, kaget akan peristiwa
yang telah terjadi saat itu. Perbuatan bejatnya seakan menjadi seribu pisau
yang menghujam hatiku, menancap jiwaku yang lemah. Bumipun mendadak gelap
seperti mau runtuh, dia yang aku anggap seperti orang tuaku tega menodaiku.
Sudah jatuh tertimpa tangga, dengan lincahnya mulut Pak hendar berkilah dan tidak mau bertanggung jawab atas
perbuatannya. Berdasarkan
hasil rapat dan bukti yang kuat, baik aku maupun Pak Hendar sama-sama
dikeluarkan dari sekolah karena dianggap telah membawa aib bagi sekolah.
Hari-hari kulalui dengan mengurung diri di kamar, menangis dan melamun. Aku
malu dengan keadaanku yang sudah ternoda. Melihat keadaanku yang semakin
terpuruk, papa dan mama semakin saling menyalahkan karena kurang
memperhatikanku. Sesaat mereka diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum
akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir begitupun denganku.
Satu hal yang baru terjadi menyusul hal
lainnya dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Namun mereka tak pernah
putus asa dalam mencari berbagai cara untuk mengembalikan keceriaanku seperti
dulu. Minggu demi minggu lewat tanpa ada perkembangan apapun dari usaha mereka.
Semuanya sia-sia,
diriku
bagaikan
mayat hidup yang tidak mempunyai keinginan untuk bangkit lagi. Ditengah rasa putus asa itulah,
pertolongan Allah datang. Salah seorang kerabat keluarga memberikan saran untuk
membawaku
menemui ustadz
Massar di Semarang.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk
berpikir. Dengan penerbangan pertama mereka membawaku menemui seorang Ustadz
yang dimaksud.
Setelah berkonsultasi beberapa menit mengenai masalahku, Ustadz Massar segera melaksanakan ruqyah diri
bagiku. Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku sudah dapat
menerima kenyataan yang merupakan mimpi burukku saat itu. Akupun mulai belajar
agama dan mengaji agar hidupku lebih terarah dan bertujuan. Aku tak ingin
peristiwa buruk yang menimpaku menjadi beban pikiranku dan orang tuaku sehingga
dapat membuatku semakin terpuruk menghadapi masa depan. Untuk itulah aku
senantiasa berdoa kepada Tuhan agar cobaan yang terjadi kepadaku menjadi
kekuatan untuk bangkit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar