Kamis, 01 Mei 2014

Bangkit Dari Masalah Setelah Di Ruqyah




Namaku  Mela, siswi sekolah menengah atas di kotaku. Dengan latar belakang keluargaku yang kaya, aku dapat melakukan apapun yang menjadi keinginanku. Orangtuaku memang selalu disibukkan dengan Pekerjaan mereka hingga tak ada waktu untukku bahkan hanya sekedar untuk sarapan pagi atau makan malam bersama. Hingga aku tumbuh menjadi gadis yang haus kasih sayang orang tua.
 Pah coba lihat  tagihan kartu kredit Mela, masa sampai 50 juta bulan ini”protes mama pada papa. “ ah mama, ngeluarin uang untuk anak aja kok perhitungan jawab papa yang tak mau ambil pusing. Papa memang selalu meluluskan semua keinginanku tidak seperti mama yang agak perhitungan. Buntutnya mereka akan saling ribut tentang diriku, Itu semua yang membuatku mencari pelampiasan guna menuntaskan pikiran yang kalut. Dugem menjadi kebiasaan yang sulit aku hilangkan. Nongkrong di kafe sepulang sekolah, malamnya ke diskotik, menenggak alkohol, menghisap rokok, mengkonsumsi ekstasi, berjingkrak-jingkrak dengan iringan musik DJ. Sungguh membuat diriku merasa senang. Kesenangan yang kemudian aku ketahui sebagai kesenangan semu.
Sebagai gadis modern aku harus selalu tampil up to date disetiap kesempatan tak terkecuali saat di sekolah. Tak heran jika banyak teman-teman yang ingin mendekatiku begitupun dengan Pak Hendar guru sains di sekolahku. Dia memang Tampan, gagah dan dewasa, meskipun telah memiliki dua anak. Aku pun merasa nyaman jika berdekatan dengannya. Karena seringnya bertemu dan membantu tugas-tugasku, membuat hubungan kami semakin intens. Akupun tak sungkan lagi untuk sharing kepadanya tentang banyak hal termasuk masalah keluarga dan pribadiku. Aku seperti mendapat perhatian dan kasih sayang yang tak kudapatkan dari orang tuaku. Tanpa kusangka, rupanya Pak Hendar mempunyai niat jahat terhadapku. Usai pulang sekolah dia sengaja menungguku dan mengajakku untuk makan siang di kafe, tanpa kusadari ternyata dia telah mencampur minumanku dengan obat tidur.
Jantungku berdegub kencang dan emosiku meledak nyaris tanpa kendali. Akupun menangis kencang, kaget akan peristiwa yang telah terjadi saat itu. Perbuatan bejatnya seakan menjadi seribu pisau yang menghujam hatiku, menancap jiwaku yang lemah. Bumipun mendadak gelap seperti mau runtuh, dia yang aku anggap seperti orang tuaku tega menodaiku.
Sudah jatuh tertimpa tangga, dengan lincahnya mulut Pak hendar berkilah dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Berdasarkan hasil rapat dan bukti yang kuat, baik aku maupun Pak Hendar sama-sama dikeluarkan dari sekolah karena dianggap telah membawa aib bagi sekolah. Hari-hari kulalui dengan mengurung diri di kamar, menangis dan melamun. Aku malu dengan keadaanku yang sudah ternoda. Melihat keadaanku yang semakin terpuruk, papa dan mama semakin saling menyalahkan karena kurang memperhatikanku. Sesaat mereka diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir begitupun denganku.
Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Namun mereka tak pernah putus asa dalam mencari berbagai cara untuk mengembalikan keceriaanku seperti dulu. Minggu demi minggu lewat tanpa ada perkembangan apapun dari usaha mereka. Semuanya sia-sia, diriku bagaikan mayat hidup yang tidak mempunyai keinginan untuk bangkit lagi. Ditengah rasa putus asa itulah, pertolongan Allah datang. Salah seorang kerabat keluarga memberikan saran untuk membawaku menemui ustadz Massar di Semarang.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk berpikir. Dengan penerbangan pertama mereka membawaku menemui seorang Ustadz yang dimaksud. Setelah berkonsultasi beberapa menit mengenai masalahku, Ustadz Massar segera melaksanakan ruqyah diri bagiku. Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku sudah dapat menerima kenyataan yang merupakan mimpi burukku saat itu. Akupun mulai belajar agama dan mengaji agar hidupku lebih terarah dan bertujuan. Aku tak ingin peristiwa buruk yang menimpaku menjadi beban pikiranku dan orang tuaku sehingga dapat membuatku semakin terpuruk menghadapi masa depan. Untuk itulah aku senantiasa berdoa kepada Tuhan agar cobaan yang terjadi kepadaku menjadi kekuatan untuk bangkit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar