Aku Rose (37) seorang karyawati di perusahaan penerbangan di kotaku. aku
menikah dengan Emri (42) seorang karyawan diperusahaan asing dikota yang sama
dan telah dikaruniai 2 orang putra yang sehat dan pintar. Awal pernikahanku
dengan mas Emri sangat bahagia dan harmonis bahkan bisa membuat iri
teman-temanku dikantor. Tiga tahun kemudian, cobaan demi cobaan mulai
menghampiri keluarga kecilku. Adanya demo besar-besaran menuntut kenaikan UMK
yang diajukan beberapa buruh di ibu kota tahun lalu telah berimbas pada
perusahaan tempat suamiku bekerja. Puluhan karyawan terpaksa diberhentikan
termasuk suamiku karena perusahaan tersebut akan hengkang dari Jakarta.
Beberapa bulan setelah kejadian itu
suamiku menganggur dirumah karena belum menemukan pekerjaan lagi. Praktis,
segala urusan rumah tangga jatuh ditanganku hingga 5 bulan lamanya. Meski
Suamiku telah menemukan pekerjaan lagi namun dengan gaji yang minim tidaklah
cukup untuk memenuhi segala kebutuhan dikota yang kejam ini.
Suatu ketika tanpa sengaja suamiku yang
sedang membersihkan rumah menjatuhkan I Pad yang baru beberapa minggu
aku beli hingga layarnya retak.
“ Papah!!!! Apa-apaan ini, kamu pikir
itu mainan yang bisa dibanting-banting seenaknya? Bentak Rose sambil mendorong
tubuh suaminya hingga tersungkur.
“Gajimu berbulan-bulan aja tuh belum
tentu bisa buat beli yang baru!”
Pada saat itu aku mempunyai keyakinan
bahwa ternyata laki-laki itu tidak lebih kuat daripada wanita. Lebih dari itu, suamiku
terlihat rendah dimataku karena tidak dapat mencukupi semua kebutuhanku. Dalam
keegoisanku timbul
rasa ingin menguasai suamiku. Tidak jarang diriku meminta hal-hal yang aneh
untuk mengerjainya termasuk memulangkan pembantuku agar semua pekerjaan
rumah dihandle suamiku, dan itu berhasil. Geli rasanya melihat suamiku tunduk mengiba dan meminta belas
kasihan dariku.
Tujuan utamaku mengintimidasinya selama
ini tak lain agar suami menjadi benci dan meninggalkanku, karena saat itu aku
merasa tidak membutuhkannya lagi. Dalam kondisi seperti itu, ibarat semut yang terinjak
pasti melawan juga. Suamiku mulai gusar dan tidak jarang kami bertengkar namun tak
sekalipun dia melontarkan kata “cerai” kepadaku. Dengan ikhlas suami selalu mengalah
dan dirikulah yang
menang.
Sebenarnya sudah berulang kali aku
mendapat teguran dari Allah SWT akibat perbuatanku ini, tapi semuanya
hanya kuanggap sebagai angin lalu. Hingga suatu ketika azab Allah benar-benar
terjadi. Setelah bertengkar hebat dengan suamiku, keesokan harinya saat
terbangun dari tidur secara tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa
disekujur tubuhku dan hampir merenggut nyawaku. Sejak saat itu, berbagai
pengobatan medis kedokter ahli hingga terapi yang kulalui hanyalah sia-sia.
Obat-obatan yang mereka berikan sama sekali tidak menunjukkan hasil yang
berarti.
“ini semua tuh gara-gara papah, badan mama jadi
sakit semua karena harus bekerja keras memenuhi semua kebutuhan”. Hardikku
Beberapa hari kemudian, Paman yang
kebetulan sedang menjengukku merasa iba dengan kondisiku yang tak kunjung
sembuh. Bersama keluarga yang lain, paman mencoba membawaku ke Semarang untuk
berkonsultasi dan berobat ketempat praktik Ustadz Massar di Semarang saat itu
juga.
“Saya akan merukyahmu tetapi sebelum
itu, saya ingin Anda memohon maaf kepada Allah SWT dan juga kepada suamimu atas
apa yang Anda perbuat selama ini kepadanya.” Tutur sang ustadz. Situasi yang
terjadi saat itu sangat mengharukan dimana suamiku bersedia dengan ikhlas
memaafkan segala khilafku.
Subhanallah, Allah Maha Pemaaf lagi Maha
Penyayang. Alhamdulillah, Beberapa hari setelah melaksanakan terapi rukyah,
Kondisiku berangsur-angsur membaik dan kembali normal. Aku tak akan melupakan
janjiku untuk selalu beribadah ,berbakti
kepada suami dan orang tuaku serta menyayangi anak-anakku dengan setulus hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar