Jumat, 21 November 2014

Azab Istri Durhaka




Aku Rose (37) seorang karyawati  di perusahaan penerbangan di kotaku. aku menikah dengan Emri (42) seorang karyawan diperusahaan asing dikota yang sama dan telah dikaruniai 2 orang putra yang sehat dan pintar. Awal pernikahanku dengan mas Emri sangat bahagia dan harmonis bahkan bisa membuat iri teman-temanku dikantor. Tiga tahun kemudian, cobaan demi cobaan mulai menghampiri keluarga kecilku. Adanya demo besar-besaran menuntut kenaikan UMK yang diajukan beberapa buruh di ibu kota tahun lalu telah berimbas pada perusahaan tempat suamiku bekerja. Puluhan karyawan terpaksa diberhentikan termasuk suamiku karena perusahaan tersebut akan hengkang dari Jakarta.
Beberapa bulan setelah kejadian itu suamiku menganggur dirumah karena belum menemukan pekerjaan lagi. Praktis, segala urusan rumah tangga jatuh ditanganku hingga 5 bulan lamanya. Meski Suamiku telah menemukan pekerjaan lagi namun dengan gaji yang minim tidaklah cukup untuk memenuhi segala kebutuhan dikota yang kejam ini.
Suatu ketika tanpa sengaja suamiku yang sedang membersihkan rumah menjatuhkan I Pad yang baru beberapa minggu aku beli hingga layarnya retak.
“ Papah!!!! Apa-apaan ini, kamu pikir itu mainan yang bisa dibanting-banting seenaknya? Bentak Rose sambil mendorong tubuh suaminya hingga tersungkur.
“Gajimu berbulan-bulan aja tuh belum tentu bisa buat beli yang baru!”
Pada saat itu aku mempunyai keyakinan bahwa ternyata laki-laki itu tidak lebih kuat daripada wanita. Lebih dari itu, suamiku terlihat rendah dimataku karena tidak dapat mencukupi semua kebutuhanku. Dalam keegoisanku timbul rasa ingin menguasai suamiku. Tidak jarang diriku meminta hal-hal yang aneh untuk mengerjainya termasuk memulangkan pembantuku agar semua pekerjaan rumah dihandle suamiku, dan itu berhasil. Geli rasanya melihat suamiku tunduk mengiba dan meminta belas kasihan dariku.
Tujuan utamaku mengintimidasinya selama ini tak lain agar suami menjadi benci dan meninggalkanku, karena saat itu aku merasa tidak membutuhkannya lagi. Dalam kondisi seperti itu, ibarat semut yang terinjak pasti melawan juga. Suamiku mulai gusar dan tidak jarang kami bertengkar namun tak sekalipun dia melontarkan kata “cerai” kepadaku. Dengan ikhlas suami selalu mengalah dan dirikulah yang menang.
Sebenarnya sudah berulang kali aku mendapat teguran dari Allah SWT akibat perbuatanku ini, tapi semuanya hanya kuanggap sebagai angin lalu. Hingga suatu ketika azab Allah benar-benar terjadi. Setelah bertengkar hebat dengan suamiku, keesokan harinya saat terbangun dari tidur secara tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa disekujur tubuhku dan hampir merenggut nyawaku. Sejak saat itu, berbagai pengobatan medis kedokter ahli hingga terapi yang kulalui hanyalah sia-sia. Obat-obatan yang mereka berikan sama sekali tidak menunjukkan hasil yang berarti.
 “ini semua tuh gara-gara papah, badan mama jadi sakit semua karena harus bekerja keras memenuhi semua kebutuhan”. Hardikku
Beberapa hari kemudian, Paman yang kebetulan sedang menjengukku merasa iba dengan kondisiku yang tak kunjung sembuh. Bersama keluarga yang lain, paman mencoba membawaku ke Semarang untuk berkonsultasi dan berobat ketempat praktik Ustadz Massar di Semarang saat itu juga.
“Saya akan merukyahmu tetapi sebelum itu, saya ingin Anda memohon maaf kepada Allah SWT dan juga kepada suamimu atas apa yang Anda perbuat selama ini kepadanya.” Tutur sang ustadz. Situasi yang terjadi saat itu sangat mengharukan dimana suamiku bersedia dengan ikhlas memaafkan segala khilafku.
Subhanallah, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang. Alhamdulillah, Beberapa hari setelah melaksanakan terapi rukyah, Kondisiku berangsur-angsur membaik dan kembali normal. Aku tak akan melupakan janjiku untuk selalu  beribadah ,berbakti kepada suami dan orang tuaku serta menyayangi anak-anakku dengan setulus hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar