Harta yang melimpah sering
kali membuat orang lupa diri, jatuh dan terperosok dalam kubangan dosa. Hanya tangisan dan
penyesalan yang tertinggal saat teguran itu datang menghampiri. Berikut ini
merupakan kisah keluarga yang bisa dijadikan renungan bagi kita semua.
Sebut saja Sera (23)
seorang gadis manja dalam sebuah lingkungan keluarga borju di Bali. Kecelakaan
pesawat beberapa tahun yang lalu telah menyebabkan kedua kakaknya meninggal
dalam sebuah perjalanan dinas ke luar negeri dan merubah takdir Sera menjadi
anak tunggal di dalam keluarga. Tak heran jika orangtuanya begitu
memanjakannya, hampir semua permintaan Sera dipenuhi. Meski begitu Dia merasa
hatinya tetap kosong.
Diusianya yang masih belia Sera sudah
mengenal kehidupan malam yang glamour. Teman-teman pergaulannya tak hanya dari
kalangan anak seorang pengusaha saja, Namun ada juga diantaranya beberapa dari anak
seorang pejabat. Harta yang melimpah ditambah kesibukan orang tua masing-masing
membuat hidupnya berjalan begitu bebas nyaris tanpa hambatan. Club malam,
narkoba dan hiruk pikuk dunia malam seolah menjadi rutinitas wajib. Masya Allah !!!
Tak terasa dengan seiring berjalannya waktu Sera telah memasuki
bangku universitas dan menjadi mahasiswa jurusan managemen ekonomi disebuah
universitas swasta di Bali. Alih-alih akan mendapatkan kedewasaan, Sera semakin parah dan
tak terkendali. Terlebih karena tidak adanya figur
di dalam keluarga yang dapat menjadi panutan untuk menyadarkannya. “Sera,
akhir-akhir ini papa dan mama sering mendapat laporan buruk soal kamu diluar
sana, jaga sikapmu dan jangan bikin malu orang tua “ bentak Rudi. “ Apa papa
masih peduli dengan keadaan Sera? Selama ini papa hanya sibuk sama pekerjaan
papa, mama juga” bela Sera sambil terisak. “Sera butuh orang yang bisa
membimbing Sera pah, bukan materi” tambahnya sambil berlalu.
Semakin hari Sera semakin
hanyut dengan dunianya, hingga akhirnya
teguran itu mulai datang menyapa keluarganya. Dimana rekan bisnis papanya
membawa lari modal usaha yang telah ditanam hingga miliyaran rupiah. Tak kuat
menghadapi kenyataan yang ada, penyakit komplikasi papanya kambuh. Meskipun
sempat dirawat dirumah sakit, namun mata itu akhirnya tertutup juga untuk
selamanya. Ekonomi keluarga mulai melemah, hutang melilit dimana-mana Hingga
semua barang-barang mewah yang dimilikinya terpaksa disita bank untuk menutup
hutang sang ayah sedangkan ibunya yang depresi berat harus diisolasi dirumah
sakit jiwa karena tak kuat menghadapi guncangan batin.
“Sory ya Ser, kita sudah
gak level lagi, mending loe jauh-jauh deh dari gue “ ujar salah satu teman
Sera. Sudah jatuh tertimpa tangga setelah semua yang dimilikinya raib dan di
D-O dari kampus, teman-teman Sera enggan menjadikannya bagian dari hidup mereka
lagi. Ya, mungkin ini yang sering dikatakan orang “Teman Dalam Suka”.
Kini, Sera tinggal didesa bersama neneknya di
pulau yang sama, dialah satu-satunya harta yang dimilikinya saat ini. Ditengah penyesalannya
yang tak berujung, Sera memutuskan untuk menemui seorang Ustadz yaitu Ustadz
Massar yang diketahuinya melalui tabloid Kisah Hikmah yang selalu dibaca
neneknya untuk merukyah dan membimbingnya menuju jalan pertaubatan yang
diridhoi Allah.
Ringkas cerita, dengan kemantapan hati Sera
mengiyakan saran
Ustadz Massar untuk segera merukyah diri Sera dan ibunya. “insya Allah akan saya jalani semua saran dan perintah
ustadz” ujar Sera. Apa yang dinyatakan Sera bukanlah omong kosong, semua tahapan dilakukannya
dengan sungguh-sungguh dan niat yang tulus. Alhamdulillah, Allah Maha Mendengar
doa dan jeritan hati Sera selama ini, Selain kesembuhan yang nampak pada
ibunya, dia juga berhasil merubah hidupnya menjadi pribadi yang santun dan
terbebas dari belenggu dunia hitam termasuk obat-obatan terlarang. Dia pun bertekad
mencari rizki yang halal untuk masa depan yang lebih baik bersama ibu dan neneknya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar