Sepintas hidupku biasa-biasa saja seperti orang lain. Tak
ada satu hal yang bisa dikatakan istimewa. Tapi tidak dengan hatiku yang
menyimpan rahasia besar yang sebelumnya tidak kuungkapkan pada siapapun.
Aku merupakan
salah seorang pilot maskapai penerbangan domestik yang telah
menghabiskan masa mudaku dengan
berbagai kebiasaan buruk. Pergaulan bebas yang didukung materi berlimpah dari
orang tua, telah menjadikanku sosok pemuda
bermental preman. Meskipun urakan,studiku lancar.
“selamat ya nak akhirnya cita-citamu tercapai, papah harap kamu
dapat menjadi orang yang berguna bagi negeri
ini” puji
ayah dengan prestasiku. aku faham
sekali bahwa setelah aku diterima
menjadi pilot, papah akan mengujiku untuk hidup mandiri. Merasa
sudah mapan, aku tidak lantas sadar dengan usiaku yang sudah tidak muda lagi, justru aku semakin jatuh dan
semakin menjadi-jadi.
Adanya kesempatan dan peluang yang didukung dana telah membuatku melupakan peranku sebagai kepala
keluarga. Tidak terhitung berapa wanita yang telah kupakai dan berapa
banyak diriku tidak sadarkan diri karena obat terlarang dan minuman keras.
“kapan papa
bisa sadar dan kembali hidup normal tanpa harus bergantung pada obat dan juga
minuman keras? Tanya Sabrina, istriku. “Mama itu gak usah sok nasehati papa, urus aja itu anak-anak!” hardikku. Tidak lantas sadar atas apa yang
kulakukan, setiap kali Sabrina memperingatkanku maka dirinya akan mendapatkan
perlakuan yang tidak patut, lebih dari itu tamparan dan perlakuan kasar seakan
telah terbiasa diterimanya.
Pada saat hatiku tertutup
dengan kegelapan, saat itulah aku mendapatkan
balasan atas apa yang telah kulakukan. “tolong aku
mah” rintihku. Akibat terlalu sering melakukan hal yang dilarang agama, aku divonis terkena penyakit kelamin dan paru-paru.
Dengan penuh kesabaran, Sabrina
mendampingi dan menjagaku selama
perawatan sampai mendapatkan kesembuhan.
Berharap
mendapatkan kesadaran atas apa yang telah menimpaku,
sedikit demi sedikit aku justru mulai kembali kepada kubangan hitam maksiat. Melihat kenyataan
tersebut, Istriku yang
masih dalam kebimbangan kembali mencoba
untuk mencari jalan keluar atas sifat burukku. Usai menunaikan solat isya’, istriku seolah
mendapat angin segar atas apa yang telah diusahakannya selama ini. Salah satu kerabat menawarkan
untuk membawaku ketempat praktek Ustadz Massar di
Semarang. Istrikupun menyetujuinya berharap adanya kesembuhan untukku.
Dengan susah payah akhirnya aku mau dibawa bertemu Ustadz
Massar, mereka beralasan ingin berkonsultasi tentang masalah agama untuk
pendidikan anak kami. Setelah
bertatap muka, aku langsung merasakan
kenyamanan sehingga secara tidak sengaja aku
bercerita panjang tentang kehidupanku.
Dari sanalah sang ustadz mulai memberikan
nasihat-nasihat yang penuh hikmah dan sekaligus mendoakanku
supaya mendapatkan hidayah dan jalan yang terbaik. Sesaat aku tak dapat berkata dan berpikir
apa-apa, aku hanya diam tertegun dan ucapan istighfar terus ku lantunkan tanpa
henti. Sambil tak lupa juga aku memohon dalam hati kepada Allah SWT, agar aku
dilepaskan dari dunia kelamku saat itu.
Aku akui memang setelah melaksanakan ruqyah yang
dibimbing langsung oleh Ustadz Massar aku merasakan ada sesuatu yang beda dan
timbul keinginanku untuk menjalani hidup dengan lebih baik lagi terlebih
dibulan yang penuh berkah ini. Perlahan-lahan aku mulai menata hidupku yang
suram dan aku berusaha menerima kekurangan pasanganku sebagai bentuk penebusan
kesalahanku.
Semoga kisah ini bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi
kaum adam untuk lebih mencintai keluarga dan menerima segala kekurangan
pasangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar