Andi
(bukan nama sebenarnya), seorang guru SD swasta, dikenal sebagai guru teladan
dan cerdas. Setiap murid sangat menghormatinya dan tidak sedikit yang
mengidolakannya. Bisa dikatakan Andi mempunyai paras rupawan sehingga tidak
jarang, guru bahkan murid menggodanya. Padahal, Andi sendiri telah mempunyai
istri dan anak.
Suatu
hari, dalam sebuah rapat di sekolah, ternyata adalah awal dari masalah rumah
tangga Andi.
“Bapak Andi, saya
harap Anda bersedia menjadi panitia perkemahan bulan depan,” tunjuk kepala
sekolah.
“Setuju!” ucap peserta rapat serempak.
“Siapa kira-kira nanti
yang pantas menjadi sekretaris?” tambah kepala sekolah.
“Ibu Nila!” kata Pak
Sartono.
“Ya betul!” sahut
yang lain sambil mengacungkan jari ke atas.
Singkat cerita,
akhirnya kepanitiaan mulai bekerja. Pada hari H, di lokasi perkemahan, Andi malah
jatuh sakit. Saat seperti itulah, Nila begitu perhatian: membelikan obat dan
membantu tugas Andi. Dari sanalah keduanya terlihat akrab, sering jalan berdua,
dan akhirnya tumbuh benih-benih cinta di antara mereka.
Tidak kuasa menahan
gejolak, akhirnya Andi mengungkapkan isi hatinya.
“Ibu Nila, terus
terang saya tertarik dengan Ibu,” ucap Andi.
Pucuk dicinta ulam
pun tiba. Nila yang dari dulu menyimpan hati kepada Andi serasa mendapatkan
angin segar.
“Hmm..terus terang
pak, saya menunggu saat ini dari dulu, khususnya setelah suami saya pergi
bekerja merantau,” ungkap Nila. “Saya merasa nyaman jika bersama bapak,” tambah
Nila.
Hubungan terlarang
tersebut terus berlanjut, bahkan hampir dua tahun. Dengan berbagai cara
keduanya selalu dapat menutupi perselingkuhan.
“Bapak Andi dan Ibu
Nila habis dari mana nih?” tanya salah seorang guru.
“Biasa, tugas,” jawab
Andi enteng.
Serapat
apapun menutup bangkai, akhirnya pasti tercium juga. Itulah nasib yang di alami
Andi dan Nila. Keduanya kepergok ketika berjalan bareng di sebuah pusat
perbelanjaan. Berawal dari peristiwa tersebut, kabarpun merebak dan menjadi isu
hangat tetangga maupun lingkungan sekolah. Akhirnya, sampai juga kepada telinga
istri Andi.
“Kalau
bapak sudah tidak cinta, lebih baik ceraikan saja aku,” desak sang istri. “Saya
enggak mau dimadu,” tambahnya.
“Sabar bu, dengarkan
dulu penjelasanku,” kata Andi.
“Semuanya sudah
jelas,” sergah sang Istri.
Sebenarnya Andi
merasa bimbang karena dirinya mencintai Nila maupun istrinya. Sehingga secara
tidak langsung dirinya menjadi tidak tegas.
“Pokoknya aku kasih
waktu satu minggu, supaya bapak dapat memilih,” tegas sang istri.
Dalam perenungannya,
secara sadar Andi tetap memilih keluarga, akan tetapi cintanya kepada Nila
terlalu besar. Melihat kebimbangan tersebut, akhinya salah satu kerabat
menyarankan Andi untuk pergi ke Ustadz ahli rukyah di Semarang. Tanpa banyak
bertanya, Andi langsung berangkat.
Setelah
selesai dirukyah, Andi mendapatkan nasihat dari sang Ustadz, “setelah ini
silahkan Anda banyak membaca al Qur’an dan menjalankan shalat tahajud, Insya Allah
hati Anda akan semakin yakin terhadap kebenaran,” tuturnya.
Setelah itu, Andi
memang merasakan perubahan yang drastis. Rasa cintanya kepada Nila luntur
sudah. Ia semakin sadar bahwa keluarga merupakan hal terpenting dalam hidup.
Akhirnya sebelum habis tenggang waktu dari sang istri, Andi menyatakan
bertaubat dan tetap ingin menjaga keutuhan rumah tangga tanpa keraguan.
Andi juga menemui
Nila untuk memberi penjelasan. Andi menyadari bahwa perasaan perempuan begitu
halus. Ia harus berhati-hati dalam menjaga sikap dan tutur kata. Ia tak ingin
Nila tersinggung.
“Nila, kita hidup di
dunia ini terikat dengan norma, aturan dan hukum. Tidak ada kebebasan yang
mutlak,” tutur Andi.
“Tetapi aku
mencintaimu Pak,” ucap Nila memelas.
“Bahkan cinta
sekalipun tidak membiarkan dirinya dinodai. Ada batas yang tak boleh dilanggar,
apalagi mengatasnamakan cinta,” terang Andi. Andi menarik nafas pelan, mata
Nila nampak berkaca-kaca.
“Berarti Pak Andi
akan meninggalkanku?” tanya Nila dengan berlinang air mata.
“Aku tidak ke
mana-mana. Aku tetap mengajar. Sebagai seorang guru, kita musti memberikan
keteladanan yang baik bagi murid Bu. Dalam satu hati tak mungkin ada dua cinta
bersemayam. Acapkali kita dihadapkan pada pilihan yang berakibat buruk. Nah,
pilihan yang beresiko negatif lebih kecil itulah yang kita ambil. Cinta tak mesti
memiliki, begitu hukum di dunia ini. Semoga di akhirat kelak kita bisa bersua
kembali dalam keadaan yang lebih baik.”
Penjelasan Andi
sangat berkesan mendalam di hati Nila. Ternyata efek ruqyah yang dijalani Andi
berpengaruh pada Nila melalui penampilan dan ucapan yang berwibawa. Nila pun
akhirnya kembali setia kepada sang suami. Begitu pula Andi. Mereka akhirnya
hidup bahagia dalam belaian kasih sayang keluarga masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar