Selasa, 11 November 2014

Mengatasi Selingkuh dengan Ruqyah


Andi (bukan nama sebenarnya), seorang guru SD swasta, dikenal sebagai guru teladan dan cerdas. Setiap murid sangat menghormatinya dan tidak sedikit yang mengidolakannya. Bisa dikatakan Andi mempunyai paras rupawan sehingga tidak jarang, guru bahkan murid menggodanya. Padahal, Andi sendiri telah mempunyai istri dan anak.
            Suatu hari, dalam sebuah rapat di sekolah, ternyata adalah awal dari masalah rumah tangga Andi.
“Bapak Andi, saya harap Anda bersedia menjadi panitia perkemahan bulan depan,” tunjuk kepala sekolah.
 “Setuju!” ucap peserta rapat serempak.
“Siapa kira-kira nanti yang pantas menjadi sekretaris?” tambah kepala sekolah.
“Ibu Nila!” kata Pak Sartono.
“Ya betul!” sahut yang lain sambil mengacungkan jari ke atas.
Singkat cerita, akhirnya kepanitiaan mulai bekerja. Pada hari H, di lokasi perkemahan, Andi malah jatuh sakit. Saat seperti itulah, Nila begitu perhatian: membelikan obat dan membantu tugas Andi. Dari sanalah keduanya terlihat akrab, sering jalan berdua, dan akhirnya tumbuh benih-benih cinta di antara mereka.
Tidak kuasa menahan gejolak, akhirnya Andi mengungkapkan isi hatinya.
“Ibu Nila, terus terang saya tertarik dengan Ibu,” ucap Andi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Nila yang dari dulu menyimpan hati kepada Andi serasa mendapatkan angin segar.
“Hmm..terus terang pak, saya menunggu saat ini dari dulu, khususnya setelah suami saya pergi bekerja merantau,” ungkap Nila. “Saya merasa nyaman jika bersama bapak,” tambah Nila.
Hubungan terlarang tersebut terus berlanjut, bahkan hampir dua tahun. Dengan berbagai cara keduanya selalu dapat menutupi perselingkuhan.
“Bapak Andi dan Ibu Nila habis dari mana nih?” tanya salah seorang guru.
“Biasa, tugas,” jawab Andi enteng.
            Serapat apapun menutup bangkai, akhirnya pasti tercium juga. Itulah nasib yang di alami Andi dan Nila. Keduanya kepergok ketika berjalan bareng di sebuah pusat perbelanjaan. Berawal dari peristiwa tersebut, kabarpun merebak dan menjadi isu hangat tetangga maupun lingkungan sekolah. Akhirnya, sampai juga kepada telinga istri Andi.
            “Kalau bapak sudah tidak cinta, lebih baik ceraikan saja aku,” desak sang istri. “Saya enggak mau dimadu,” tambahnya.
“Sabar bu, dengarkan dulu penjelasanku,” kata Andi.
“Semuanya sudah jelas,” sergah sang Istri.
Sebenarnya Andi merasa bimbang karena dirinya mencintai Nila maupun istrinya. Sehingga secara tidak langsung dirinya menjadi tidak tegas.
“Pokoknya aku kasih waktu satu minggu, supaya bapak dapat memilih,” tegas sang istri.
Dalam perenungannya, secara sadar Andi tetap memilih keluarga, akan tetapi cintanya kepada Nila terlalu besar. Melihat kebimbangan tersebut, akhinya salah satu kerabat menyarankan Andi untuk pergi ke Ustadz ahli rukyah di Semarang. Tanpa banyak bertanya, Andi langsung berangkat.
            Setelah selesai dirukyah, Andi mendapatkan nasihat dari sang Ustadz, “setelah ini silahkan Anda banyak membaca al Qur’an dan menjalankan shalat tahajud, Insya Allah hati Anda akan semakin yakin terhadap kebenaran,” tuturnya.
Setelah itu, Andi memang merasakan perubahan yang drastis. Rasa cintanya kepada Nila luntur sudah. Ia semakin sadar bahwa keluarga merupakan hal terpenting dalam hidup. Akhirnya sebelum habis tenggang waktu dari sang istri, Andi menyatakan bertaubat dan tetap ingin menjaga keutuhan rumah tangga tanpa keraguan.
Andi juga menemui Nila untuk memberi penjelasan. Andi menyadari bahwa perasaan perempuan begitu halus. Ia harus berhati-hati dalam menjaga sikap dan tutur kata. Ia tak ingin Nila tersinggung.
“Nila, kita hidup di dunia ini terikat dengan norma, aturan dan hukum. Tidak ada kebebasan yang mutlak,” tutur Andi.
“Tetapi aku mencintaimu Pak,” ucap Nila memelas.
“Bahkan cinta sekalipun tidak membiarkan dirinya dinodai. Ada batas yang tak boleh dilanggar, apalagi mengatasnamakan cinta,” terang Andi. Andi menarik nafas pelan, mata Nila nampak berkaca-kaca.
“Berarti Pak Andi akan meninggalkanku?” tanya Nila dengan berlinang air mata.
“Aku tidak ke mana-mana. Aku tetap mengajar. Sebagai seorang guru, kita musti memberikan keteladanan yang baik bagi murid Bu. Dalam satu hati tak mungkin ada dua cinta bersemayam. Acapkali kita dihadapkan pada pilihan yang berakibat buruk. Nah, pilihan yang beresiko negatif lebih kecil itulah yang kita ambil. Cinta tak mesti memiliki, begitu hukum di dunia ini. Semoga di akhirat kelak kita bisa bersua kembali dalam keadaan yang lebih baik.”
Penjelasan Andi sangat berkesan mendalam di hati Nila. Ternyata efek ruqyah yang dijalani Andi berpengaruh pada Nila melalui penampilan dan ucapan yang berwibawa. Nila pun akhirnya kembali setia kepada sang suami. Begitu pula Andi. Mereka akhirnya hidup bahagia dalam belaian kasih sayang keluarga masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar