Rabu, 26 September 2012

Melindungi diri dari santet



            Sudah Lima tahun Marno warga Desa Suka Maju Kab. Sumedang tergeletak di atas ranjang. Jasadnya tingal kulit dan tulang. Dengan keadaan tersebut semua orang mengira bahwa umurnya tidak akan panjang. Tanpa disangka, setelah melaksanakan terapi rukyah kesehatannya mulai membaik, bahkan sekarang lebih energik. ”Dalam keputus asaan alhamdulillah Allah memberikan secercah harapan” ungkapnya ketika ditanya perihal pengalaman pahitnya disantet orang.
           
Persaingan Bisnis
            Marno terkenal dengan juragan beras dan mempunyai beberapa gudang di pusat pasar kota Sumedang. Tidak mengherankan jika Marno menjadi orang terkaya di desanya. ”Yang penting kita ulet dan tanggung jawab terhadap pekerjaan, pasti kita meraih kesuksesan” tuturnya. Meskipun begitu Marno belum mendapatkan posisi di hati masyarakat karena terkenal agak pelit. ”Padahal saya hanya memberikan contoh dalam berbisnis lho” ungkapnya.
            Di Desanya sendiri sebenarnya sudah ada beberapa juragan beras, akan tetapi tidak seberuntung Marno. ”Apapun anggapan masyarakat  yang terpenting adalah bukti siapa yang paling sukses dalam berbisnis” tutur bapak lima orang anak ini. ”Kita harus seperti orang china apabila ingin sukses dalam usaha” tambahnya.  
            Dengan model usaha Marno yang terkesan licik membuat para saingan membencinya. Banyak yang protes dan mendatangi rumahnya. ”Atas dukungan keluarga, saya mulai membuka hati dan mencoba merangkul pengusaha-pengusaha saingan saya” ungkapnya. Sebenarnya Marno sendiri merasa tidak enak dengan banyak orang yang membicarakannya.

Terlanjur Iri Hati
            ”Sudah resiko dalam berbisnis, tetap saja ada yang tidak suka terhadap saya”ungkapnya. Meskipun telah banyak berbuat baik terhadap pesaingnya, kesan buruk yang mendalam dari salah seorang saingan tidak dapat hilang. Tanpa diketahui penyebabnya tiba-tiba Marno diserang sakit di sekujur persendiannya. Ketika diperiksa dokter tidak terdapat gangguan kesehatan. ” Sebenarnya saya sudah tahu siapa orang yang berbuat seperti itu” jujurnya.
            Dalam kepasrahannya, penyakit Marno tidak kunjung sembuh. ”Saya merasa antara hidup dan mati, sudah beberapa kali saya mendatangi pengobatan alternatif akan tetapi tidak berhasil, terus terang saya merasa terdzolimi”. Katanya dengan bercucuran air mata.
            Selama lima tahun Marno tidak berdaya di Ranjangnya. Banyak kerabat yang menjenguk dan merasa kuatir dengan keadaan Marno. Sampai akhirnya salah satu penjenguk menganjurkannya untuk melakukan rukyah. ”Awalnya saya tidak mengerti apa itu rukyah, terus terang saya bukan orang yang terlalu dekat dengan agama” katanya.
            Akhirnya keluarga memutuskan untuk membawanya ke tempat ustadz ahli rukyah dan pakar agama di Semarang. ”Setelah beberapa kali dilakukan rukyah, perubahan mulai terasa. Sakit yang saya rasakan mulai berkurang dari ujung kepala sampai ujung kaki, meskipun untuk sembuh secara total lumayan membutuhkan waktu cukup lama”.
            Ustadz sendiri telah memberi tahu orang yang melakukan perbuatan nista tersebut. ”ustadz menyarankan saya untuk memafkan pelaku yang ternyata sesuai dengan prediksi saya”. Pengalaman pahit ini memberikan hikmah yang besar dalam mengarungi kehidupan Marno selanjutnya. 
           
           
            

2 komentar:

  1. Tempat dan kegiatanya berdasarkan ajran islam..tapi namanya kaya yayasan agama lain,ap ga pde pke nama bercirikan islam?

    BalasHapus
  2. Jujur sya yg awam mndengar nama yayasanya sangat asing dan di fikiran sy ini bukan yayasan islam,apalagi ad kata "KASIH"tolong buat pengurusnya klo mau syiar namanya yg islami dong

    BalasHapus