Dengan tubuh yang hanya berbalut kulit dan tulang, semua orang tidak akan
menyangka bahwa kakek tua renta yang tergeletak diranjang reot adalah seorang
yang dulunya kaya raya dan gagah. Ditempat lain seseorang dengan gaya parlente berdasi duduk
dikursi empuk berlimpah kekayaan adalah seorang pekerja kasar. Perubahan
keduanya bermula dari sebuah peristiwa.
Sebut saja Zaky, pemuda kaya
raya dari kota ingin membebaskan sebuah tanah untuk keperluan pengembangan
bisnis di Desa Pegandon Jawa Timur. Kebetulan yang mempunyai tanah adalah Royan
seorang petani desa. ”bagaimana kalau aku beli tanah mu dengan harga dua kali
lipat?”. tawar Zaky. ”mohon maaf den, bukan kami tidak mau menjual, tanah
tersebut merupakan warisan yang harus dijaga secara turun temurun”. Tolak Royan
dengan halus.
Merasa diremehkan, Zaky
mulai mencari cara untuk mendapatkan tanah tersebut. Dengan meminta bantuan dari perangkat
desa dan aparat keamanan Zaky memaksakan kehendaknya. ”Mohon bapak lurah
membantu saya membebasan tanah tersebut, ini sangat mendesak karena ada
infestor asing yang akan menanam saham di perusahaan saya”. Rayu Zaki .
Melihat tumpukan uang di
depan mata, pak lurah ikut tergiur yang berujung pada menipulasi akta tanah milik Royan. ”jangan
rampas tanah kami pak, ini warisan leluhur” rengek Royan. ”Tanah milik kamu ini
tidak berkata, maka tanah tersebut dianggap tidak bertuan, kecuali sudah
mematuhi ketentuan yang berlaku” kilah pak lurah.
Merasa orang kecil dan
tidak mengerti apakah sebuah tanah butuh akta dan bukti lainnya, Royan hanya
bisa pasrah. Sebaliknya Zaky dengan sombong ”akhirnya aku dapat menguasai juga
tanah ini, semoga mister Ronal senang dan dapat diajak kerja sama”tuturnya.
Titik Balik
Sampai peristiwa tersebut dilupakan keduanya, Zaky
masih berbisnis dengan Mister Ronal. Berbeda dengan Royan, dia bekerja banting
tulang untuk mencapai cita-citanya sebagai bisnismen. ”saya harus menjadi orang
besar tetapi tidak seperti orang yang pernah merampas tanah leluhurku, mereka
besar dengan harta tidak dengan ilmu dan iman” gumamnya.
Tanpa disangka, terjadi perubahan yang signifikan.
Zaky yang selama ini hidup mewah dalam sekejap menjadi miskin karena menanggung
hutang milyaran rupiah akibat penipuan yang dilakukan rekan bisnisnya sendiri
yaitu mister Ronal. Dengan segala keterlanjuran Zaky menyesali seluruh
perbuatannya. ”kenapa aku melakukan segala cara untuk mencapai ambisi, kalau
akhirnya akan seperti ini” sesalnya.
Berbeda dengan Royan, setelah berusaha keras dan
banting tulang. Royan mendatangi guru spiritual untuk mengaji dan menuntunnya
dalam berbisnis ala nabawi. ”saya butuh keseimbangan dalam hidup antara ruhani
dan duniawi, saya tidak mau menjadi orang yang menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan ambisinya”gumamnya dalam hati. Gurunya sendiri seorang Ustadz di Yayasan Kasih Kita Nusantara. Lewat bimbingannya Royan dapat melangkah pasti
tanpa ada keraguan dalam usaha maupun bisnisnya.
Dengan keadaan masing-masing yang berbeda akhirnya
keduanya dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang berharga dari apa yang
telah diperbuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar