Senin, 09 Juli 2012

Fitnah Kaum Elitis


Kakak saya seorang pengusaha kaya raya yang tinggal di Jakarta. Pergaulan dan relasinya tidak hanya dengan para pengusaha eksekutif, lebih dari itu dia dekat dengan beberapa pejabat pemerintah sebagai rekan bisnis yang dibutuhkan untuk keperluan politik.
Dari pergaulannya dengan para pejabat, akhirnya dia tertarik dan terjun dalam dunia politik menjadi salah satu pengurus pusat partai politik. Politik sendiri baginya hanya menjadi jalan untuk memperkokoh perekonomian pribadi. Baginya tidak ada perjuangan murni kecuali di dalamnya menyimpan kepentingan pribadi.
            Karir usaha dan perpolitikan yang begitu sukses ternyata membuat kakak saya lupa diri, dengan segala upaya dia usahakan untuk mendapatkan kekayaan dan jabatan. Dengan alasan eksistensi politik dan dunia bisnis, tidak jarang dia mencurangi temannya sendiri untuk mendapatkan ambisinya mendapatkan jabatan dan menumpuk kekayaan. Dari perangainya yang buruk, tidak sedikit rekan politik dan bisnisnya merasa sakit hati dan menyimpan dendam.
            ”Dalam percaturan politik dan bisnis yang ada adalah kepentingan, kamu harus tega de” ujarnya ketika berkunjung ke tempatku. Waktu itu aku belum faham apa maksudnya perkataan tersebut. Sampai akhirnya aku mendengar berita bahwa kakakku menjadi tersangka penipuan dan harus meringkuk di tahanan.

Awal Keterpurukan
            Kakak sendiri mendapatkan tuduhan penggelapan uang negara dalam sebuah proyek. Tanpa disadarinya, kasus tersebut ternyata hasil rekayasa rekan-rekannya yang menyimpan dendam dengan tujuan menghancurkan nama baik. Dengan segala upaya kakak saya menyelamatkan diri, akan tetapi sia-sia karena konspirasi musuh-musuhnya yang kuat.
            Akibat tercoreng nama, bisnisnya menjadi merosot dan banyak rekan politik yang menjauh. Tidak banyak yang mau membantu, sifatnya yang culas sangat membekas dalam hati rekan-rekannya. ”Yang sabar ya mas, pasti Allah memberikan jalan keluar bagi mas” tuturku ketika menengok ke penjara. Yang membuatku tambah prihatin adalah keluarga yang sangat membutuhkan kehadiran kakak.
            Dalam keadaan mimbang aku dan keluarga tidak tahu harus bagaimana. Kami sudah putus asa, sampai akhirnya tanpa disengaja kami melihat konsultasi permasalahan di tabloid Hikmah asuhan Ustadz Massar di Semarang. Tanpa pikir panjang kami mengunjunginya.
            Saya menceritakan kronologi permasalahan dari awal sampai akhir. Ustadz mendengarkan dengan seksama dan mengajak kami untuk beristighfar bersama. Dengan mensucikan diri semoga Allah berkenan mendengarkan jeritan hambanya. Ustadz menyarankan untuk menyampaikan kepada kakak saya agar bertaubat dan melakukan banyak ibadah serta pasrah kepada yang maha kuasa meskipun dalam penjara.
            Adapun kami sekeluarga disarankan memperbanyak istghosah dan amalan ibadah. Tanpa diduga dalam waktu beberapa minggu pengadilan dapat mengungkap hasil rekayasa dalam kasus kakak. Akhirnya kakak saya divonis bebas. Dengan pengalaman yang dilaluainya kakak mulai menyadari semua kesalahannya dan mulai menjalni hidup dengan bersih. Dan sekarang mendapatkan hasil yang berlipat dari sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar