Kakak saya seorang
pengusaha kaya raya yang tinggal di Jakarta. Pergaulan dan relasinya tidak
hanya dengan para pengusaha eksekutif, lebih dari itu dia dekat dengan beberapa
pejabat pemerintah sebagai rekan bisnis yang dibutuhkan untuk keperluan politik.
Dari pergaulannya dengan para pejabat, akhirnya
dia tertarik dan terjun dalam dunia politik menjadi salah satu pengurus pusat
partai politik. Politik sendiri baginya hanya menjadi jalan untuk memperkokoh
perekonomian pribadi. Baginya tidak ada perjuangan murni kecuali di dalamnya
menyimpan kepentingan pribadi.
Karir usaha dan perpolitikan
yang begitu sukses ternyata membuat kakak saya lupa diri, dengan segala upaya
dia usahakan untuk mendapatkan kekayaan dan jabatan. Dengan alasan eksistensi politik
dan dunia bisnis, tidak jarang dia mencurangi temannya sendiri untuk
mendapatkan ambisinya mendapatkan jabatan dan menumpuk kekayaan. Dari
perangainya yang buruk, tidak sedikit rekan politik dan bisnisnya merasa sakit
hati dan menyimpan dendam.
”Dalam percaturan politik
dan bisnis yang ada adalah kepentingan, kamu harus tega de” ujarnya ketika
berkunjung ke tempatku. Waktu itu aku belum faham apa maksudnya perkataan
tersebut. Sampai akhirnya aku mendengar berita bahwa kakakku menjadi tersangka
penipuan dan harus meringkuk di tahanan.
Awal Keterpurukan
Kakak sendiri mendapatkan
tuduhan penggelapan uang negara dalam sebuah proyek. Tanpa disadarinya, kasus
tersebut ternyata hasil rekayasa rekan-rekannya yang menyimpan dendam dengan
tujuan menghancurkan nama baik. Dengan segala upaya kakak saya menyelamatkan
diri, akan tetapi sia-sia karena konspirasi musuh-musuhnya yang kuat.
Akibat tercoreng nama,
bisnisnya menjadi merosot dan banyak rekan politik yang menjauh. Tidak banyak
yang mau membantu, sifatnya yang culas sangat membekas dalam hati
rekan-rekannya. ”Yang sabar ya mas, pasti Allah memberikan jalan keluar bagi
mas” tuturku ketika menengok ke penjara. Yang membuatku tambah prihatin adalah
keluarga yang sangat membutuhkan kehadiran kakak.
Dalam keadaan mimbang aku
dan keluarga tidak tahu harus bagaimana. Kami sudah putus asa, sampai akhirnya tanpa
disengaja kami melihat konsultasi permasalahan di tabloid Hikmah asuhan Ustadz
Massar di Semarang. Tanpa pikir panjang kami mengunjunginya.
Saya menceritakan
kronologi permasalahan dari awal sampai akhir. Ustadz mendengarkan dengan
seksama dan mengajak kami untuk beristighfar bersama. Dengan mensucikan diri
semoga Allah berkenan mendengarkan jeritan hambanya. Ustadz menyarankan untuk
menyampaikan kepada kakak saya agar bertaubat dan melakukan banyak ibadah serta
pasrah kepada yang maha kuasa meskipun dalam penjara.
Adapun kami sekeluarga disarankan
memperbanyak istghosah dan amalan ibadah. Tanpa diduga dalam waktu beberapa
minggu pengadilan dapat mengungkap hasil rekayasa dalam kasus kakak. Akhirnya
kakak saya divonis bebas. Dengan pengalaman yang dilaluainya kakak mulai
menyadari semua kesalahannya dan mulai menjalni hidup dengan bersih. Dan
sekarang mendapatkan hasil yang berlipat dari sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar