Sudah menjadi tradisi bagi para istri
pejabat dan eksekutif mengadakan perkumpulan untuk sekedar arisan atau ajang pamer
kekayaan dan bisnis. Tentunya sebagai wanita tidak terlepas dari agenda
sampingan yang justru lebih dominan yaitu ngrumpi. ”dunia terasa hampa tanpa
ngerumpi” ujar Linda salah satu anggota perkumpulan tersebut.
”Jeng tahu gosip terbaru
gak? Sekarang si Surminah tetangga kampung kita yang sok alim ternyata suaminya
seorang penjahat lho”.Linda membuka pembicaraan.”masa iya jeng, yang saya tahu
dia orang alim”. Sahabatnya menimpali. ”Tadinya saya juga gak menyangka begitu,
pakaian muslim yang selalu dikenakan ternyata hanya dijadikan sebagai topeng
belaka”. Dari perkumpulan tersebut Linda lah yang terkenal paling banyak bicara.
Surminah dan suaminya
memang keluarga baru di perumahan Argajalanri. dalam berpakian dan bergaul
keluarga surminah sangat taat terhadap agama, sehingga dianggap aneh bagi warga
perumahan Argajalanri yang penuh dengan kehidupan gelamor dan bermegah-megahan.
Ghibah Berakibat fitnah
”Mas yang sabar ya! Untuk
menghadapi para tetangga yang menganggap kita aneh, ini ujian dari Allah dalam
perjalanan dakwah kita”. Surminah mencoba menenangkan suaminya yang mulai emosi
mendengar banyak dibicarakan para tetangga. ”Ini sudah melampaui batas bu, kita
sudah di dzolimi”. Suaminya menyanggah. ”Mas harus ingat bahwa sesama muslim
adalah saudara, kita tidak boleh membalas kejelekan dengan kejelan serupa”.
”terserah ibu lah!”suaminya menutup dialog.
Ditempat lain para ibu-ibu
yang sedang kumpul-kumpul semakin santer membicarakan prihal keluarga Surminah.
”Ibu-ibu harus tahu, ternyata Surminah memakai jilbab selama ini karena
kepalanya penyakitan, ibu-ibu diharap jangan mendekat nanti ketularan”.
Lagi-lagi Linda yang paling santer memojokkan keluarga Surminah. Usut-punya
usut, ternyata Linda menyimpan dendam kepada keluarga tersebut akibat
mendapatkan peringatan ketika membeli minuman keras disebuah toko untuk
keperluan pesta.
Akibat Banyak Gibah
Dari perkataan menjadi
sebuah tindakan. Para ibu-ibu yang tidak tahu menahu permasalahan menjadi
terhasut yang kemudian memojokkan keluarga Surminah. ”ih jauhi Surminah nanti
ketularan penyakitnya”. Ejekan warga terhadap keluarga Surminah semakin
menjadi-jadi. Bahkan ada yang langsung mendatangi kerumahnya ”hei mending kamu
pergi saja dari sini, dari pada kita disangka menyembunyikan teroris, atau
paling tidak kita tertular penyakit” yang mencaci ternyata Linda.
”Salah kami apa? Kami
bukan teroris, lagi pula kepala saya tidak penyakitan, semua itu fitnah” rintih
Surminah sambil bercucuran air mata. ”Terserah pokoknya penduduk disini tidak
suka sama kalian, cepat pergi sebelum diusir” bentak Linda. Kebetulan suami
Surminah tidak dirumah sehingga Linda dengan bebas mencaci Surminah.
Dalam keterpurukannya,
keluarga Surminah hampir putus asa. Surminah memikirkan untuk secepatnya
mengungsi, akan tetapi banyak pertimbangan melihat tempat kerja suami dan
keperluan lainnya. Sampai akhirnya Surminah membaca rubrik konsultasi Ustadz Massar
disalah satu media cetak. Tanpa pikir panjang Surminah dan keluarga mendatangi
alamatnya.
”Banyak-banyaklah berdoa,
semoga Allah memberikan jalan keluar dan menyadarkan mereka dari kesesatan”.
Nasehat sang Ustaadz, setelah itu beliau memberikan amalan-amalan doa yang
bersumber dari al Quran. Dengan bekal tersebut keluarga Surminah merasa tenang.
Setiap sholat Surminah
merintih”Ya Allah semoga kami diberi kesabaran dan keselamatan, dan semoga
terjauh dari fitnah yang keji”. Tanpa disangka, beberapa waktu kemudian Linda
mengalami sakit karena pecahnya pita suara yang menyebabkan kebisuan. Dengan
kebisuan Linda, dari hari ke hari gosip tentang keluarga Surminah semakin
hilang sampai akhirnya hilang sama-sakali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar