Minggu, 29 Juli 2012

Bangkit Usaha Dengan Ruqyah



Siapa yang tidak mengenal Ibu Mardiyah(nama samaran), sebagai salah satu pemilik butik di Kota Surabaya, dirinya sukses mengembangkan bisnis tersebut sampai ke mancanegara. Para pelaku  bisnis mengakui istri Bapak Deddy (almarhum) tidak hanya sebagai pengusaha sukses, lebih dari itu sebagai single parent yang bejuang keras membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan perhatian.
“Sam, hati-hati kalau berangkat pake motor, jangan kencang-kencang” nasehat Ibu Deddy kepada putra tertuanya. “Iya mam” jawab Samsul(bukan nama sebenarnya), singkat. Samsul merupakan anak kesayangan ibu Deddy, disamping paling besar dia juga menjadi tumpuan (tulang punggung) keluarga  (yang dituakan) apabila ada permasalahan.
Tanpa dinyana, pagi itu merupakan pertemuan terakhir antara ibu dan anak. “Mohon maaf, dengan ibu Mardiyah”? Tanya seorang berseragam. “Ada apa ya?” Mardiyah heran. Dengan sikap canggung dan ragu pak polisi berkata “Kami mendapatkan putra ibu kecelakaan, sekarang jasadnya di rumah sakit”. Tanpa sempat  menjawab, Mardiyah terlebih dahulu pingsan. Akhirnya pihak keluarga lah yang mengurusi keperluan jenazah sampai selesai.
“Sabar ya bu” tutur kerabat. Setelah ditinggal kan Samsul, Ibu Mardiyah mulai merasa bahwa hidupnya hampa, banyak melamun dan berhayal. Akibatnya banyak pekerjaan yang terbengkalai, bahkan para karyawan melihat bahwa usaha Ibu Mardiyah mulai mengalami goncangan. Kedaan tersebut ternyata membuka kesempatan bagi para pesaing untuk berbuat buruk terhadapnya.
Ibarat luka belum kering, Ibu Mardiyah harus menelan pahitnya kembali cobaan hidup. Kali ini kedua adik Samsul harus masuk rumah sakit karena menderita penyakit yang langka dan tidak diketahui penyebabnya.
“Ya Allah, cobaan apakah yang Engkau berikan kepada kami, mohon ampunanMu ya Allah” riintih Ibu Deddy. Cobaan-cobaan tersebut datang silih berganti, sampai puncaknya yaitu terbakarnya butik Ibu Mardiyah yang selama ini menjadi tumpuan biaya keluarga. Dalam renungannya, Ibu Mardiyah merasa adanya kejanggalan dari rentetan musibah yang menimpanya, akan tetapi dia tidak merasa yakin dengan perasaannya. Menurutnya, bagaikan pohon kelapa, semakin tinggi maka semakin kuat juga angin yang menghempasnya.
Dalam ketidaktentuan hidup, Ibu Mardiyah hampir-hampir berputus asa dan berniat melakukan tindakan di luar koridor agama. Sampai akhirnya, salah seorang kerabat memberikan nasihat. “Bu saya masih yakin kalau Ibu termasuk orang yang sabar dan kuat mengahadpai cobaan” nasihatnya. “Janganlah berputus asa, cobalah lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, kebetulan saya mempunyai kenalan seorang ustadz yang dapat membantu Ibu” tambahnya.
Tanpa berfikir panjang, keduanya mendatangi Ustadz Massar di Semarang. Setelah dilaksanakan rukyah diri dan tempat, juga tidak lupa melaksanakan amalan ibadah. Ibu Mardiyah langsung merasakan perubahan yang signifikan, disamping semangatnya kembali muncul, lebih dari itu tempat usaha yang dirintisnya dari awal mulai mengalami perkembangan yang pesat. Sampai saat ini usahanya semakin sukses dan berkembang.       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar