Siapa yang
tidak mengenal Ibu Mardiyah(nama samaran), sebagai salah satu pemilik butik di Kota Surabaya,
dirinya sukses mengembangkan bisnis tersebut sampai ke mancanegara. Para
pelaku bisnis mengakui istri Bapak Deddy
(almarhum) tidak hanya sebagai pengusaha sukses, lebih dari itu sebagai single
parent yang bejuang keras membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang
dan perhatian.
“Sam,
hati-hati kalau berangkat pake motor, jangan kencang-kencang” nasehat Ibu Deddy
kepada putra tertuanya. “Iya mam” jawab Samsul(bukan nama sebenarnya), singkat. Samsul merupakan anak
kesayangan ibu Deddy, disamping paling besar dia juga menjadi tumpuan (tulang
punggung) keluarga (yang dituakan) apabila
ada permasalahan.
Tanpa dinyana,
pagi itu merupakan pertemuan terakhir antara ibu dan anak. “Mohon maaf, dengan
ibu Mardiyah”? Tanya seorang berseragam. “Ada apa ya?” Mardiyah heran. Dengan
sikap canggung dan ragu pak polisi berkata “Kami mendapatkan putra ibu
kecelakaan, sekarang jasadnya di rumah sakit”. Tanpa sempat menjawab, Mardiyah terlebih dahulu pingsan.
Akhirnya pihak keluarga lah yang mengurusi keperluan jenazah sampai selesai.
“Sabar ya bu”
tutur kerabat. Setelah ditinggal kan Samsul, Ibu Mardiyah mulai merasa bahwa
hidupnya hampa, banyak melamun dan berhayal. Akibatnya banyak pekerjaan yang
terbengkalai, bahkan para karyawan melihat bahwa usaha Ibu Mardiyah mulai
mengalami goncangan. Kedaan tersebut ternyata membuka kesempatan bagi para
pesaing untuk berbuat buruk terhadapnya.
Ibarat luka
belum kering, Ibu Mardiyah harus menelan pahitnya kembali cobaan hidup. Kali
ini kedua adik Samsul harus masuk rumah sakit karena menderita penyakit yang langka
dan tidak diketahui penyebabnya.
“Ya Allah,
cobaan apakah yang Engkau berikan kepada kami, mohon ampunanMu ya Allah”
riintih Ibu Deddy. Cobaan-cobaan tersebut datang silih berganti, sampai
puncaknya yaitu terbakarnya butik Ibu Mardiyah yang selama ini menjadi tumpuan
biaya keluarga. Dalam renungannya, Ibu Mardiyah merasa adanya kejanggalan dari
rentetan musibah yang menimpanya, akan tetapi dia tidak merasa yakin dengan
perasaannya. Menurutnya, bagaikan pohon kelapa, semakin tinggi maka semakin
kuat juga angin yang menghempasnya.
Dalam
ketidaktentuan hidup, Ibu Mardiyah hampir-hampir berputus asa dan berniat
melakukan tindakan di luar koridor agama. Sampai akhirnya, salah seorang
kerabat memberikan nasihat. “Bu saya masih yakin kalau Ibu termasuk orang yang
sabar dan kuat mengahadpai cobaan” nasihatnya. “Janganlah berputus asa, cobalah
lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, kebetulan saya mempunyai kenalan
seorang ustadz yang dapat membantu Ibu” tambahnya.
Tanpa berfikir
panjang, keduanya mendatangi Ustadz Massar di Semarang. Setelah dilaksanakan
rukyah diri dan tempat, juga tidak lupa melaksanakan amalan ibadah. Ibu
Mardiyah langsung merasakan perubahan yang signifikan, disamping semangatnya
kembali muncul, lebih dari itu tempat usaha yang dirintisnya dari awal mulai
mengalami perkembangan yang pesat. Sampai saat ini usahanya semakin sukses dan
berkembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar