Seorang pengusaha kaya
yang rendah diri, dengan pakaian yang apa adanya tidak terlihat bahwa dia
seorang millioner. Hidup bergelimang harta tidak membuatnya sombong. Dari
kerutan wajahnya tidak diragukan bahwa dia telah menelan banyak pengalaman ,
tanpa terkecuali pengalaman pahit yang selalu membekas dalam ingatannya.
Salam seorang pejabat pemerintahan di salah satu kabupaten di Sumatra. Dengan keuletan dan
kerja keras Salam dapat mengalahkan rekan-rekannya dalam meniti karir. Dalam
waktu singkat Salam dapat mendapatkan jabatan penting di pemerintahan kabupaten,
berbeda dengan rekannya yang masih di kecamatan bahkan kelurahan.
Akan tetapi sangat
disayangkan, dalam keuletan dan kerja kerasnya Salam menyimpan ambisi pribadi,
kerjanya selama ini bukan murni untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Baginya
jabatan hanyalah batu loncatan untuk menumpuk kekayaan dan mencari kedudukan.
Awal Kecurangan
Untuk melancarkan niatnya,
Suratman mengangkat kroninya dalam jajaran pemerintahan, tentunya dengan cara
nepotisme ”aku harus menyisihkan orang-orang yang bukan golonganku” gumamnya.
”Suratman tolong diterima sebagai wakil sekertaris, mohon yang lain disisihkan! Ini ada uang untuk
kamu” perintahnya kepada salah seorang penyeleksi pegawai negri.
Meskipun pejabat baru Suratman
sebagai antek Salam Dengan leluasa mulai mengotori pikiran para pejabat di
kabupaten. ”Pak Samsul tolong nanti dukung Pak Salam, ini ada sedikit hadiah
untuk bapak” rayu Suratman kepada salah satu pejabat. Satu demi demi satu para
pejabat dapat diraih hatinya untuk mendukung Salam, kebetulan sebentar lagi ada
pemilihan Bupati. ”Man bagaimana perkembangannya” tanya Salam, ”semua beres
pak, tinggal beberapa orang saja yang masih mempertahankan idealitas”. ” tolong
semuanya dibereskan!”pinta Salam.
Korupsi Berjama’ah
Tidak butuh waktu lama,
sebagian besar pejabat sudah termakan bujuk rayu Salam dan anteknya. Dalam
kesempatan dibawah satu komando, Salam mencoba membuat proyek bayangan,
tujuannya tiada lain mengambil keuntungan dari anggaran akhir tahun yang masih
ada sisa untuk dana kampanye,” Bapak Bupati mohon bisa menyutujui proposal
kegiatan bakti sosial dan pelayanan kesehatan untuk setiap desa yang ada di
Kabupaten kita” pinta Salam.
Awalnya Bupati meragukan program
kerja tersebut, selama ini program tersebut sudah berapa kali dilaksanakan.
Akan tetapi karena desakan Salam yang didukung antek-anteknya Bupati harus
menyetujuinya. Menindak lanjuti rogram tersebut Salam melakukan konsolidasi
dengan para pejabat yang ingin mendapatkan bagian uang. Tanpa disangka lebih
dari dua puluh orang yang terlibat persekongkolan tersebut.
”Suratman tolong kamu
menupulasi data, Samsul kamu mengadakan pengecekan kebeberapa lokasi sebagai
semple, Ratri kamu faham apa yang harus kamu lakukan”. ”Sipa Pak” dengan
serempak mereka menjawab. Bagaikan dicocok hidung para pejabat yang korup
mematuhi Salam.
Akhir Yang Tragis
Bagaimanpun menyembunyikan
bangkai, baunya pasti tercium juga. Berawal dari kecurigaan Bupati ketika
mengeluarkan biaya besar akan tetapi kegiatan dilapangan tidak semarak,
ditunjang dengan laporan beberapa LSM yang mengetahui gelagat dari tindak
pidana korupsi dalam proyek tersebut. Akhirnya sepakat kasus ini dilaporkan ke
KPK untuk diaudit.
”Saya ini pejabat yang
bersih, tanya saja kepada yang lain” rengeknya, ketika KPK menyeretnya untuk
diperiksa. Dalam pemeriksaan, ternyata Salam terbukti melakukan korupsi secara
berjam’ah. Akhirnya pengadilan memutuskan untuk menjebloskannya ke dalam
tahanan beserta antek-anteknya. Tidak berhenti disana, rumah Salam dibakar oleh
masa yang mengetahuinya.
Selama 15 tahun mendekam
di penjara, Salam harus merelakan kehilangan anggota keluarga dan kehilangan
seluruh harta kekayaan karena disita Negara. Kesadaran hadir ketika semuanya
telah berakhir. Dengan sisa kekuatannya Salam akhirnya bertaubat dan meminta
pertolongan kepada Allah Swt.
Sampai akhirnya Salam
bertemu seorang ustadz ahli rukyah dan usaha ala nabawi dari Semarang. Berguru
kepada beliau beberapa tahun, Salam mulai meniti usaha dari nol dibawah
bimbingannya. Dengan menggunakan relasinya yang banyak, dalam waktu singkat
Salam bisa bersaing dalam usaha bisnis sampai menjadi seperti sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar