Sabtu, 14 Juli 2012

Prahara Akibat Khianat



            Seorang pengusaha kaya yang rendah diri, dengan pakaian yang apa adanya tidak terlihat bahwa dia seorang millioner. Hidup bergelimang harta tidak membuatnya sombong. Dari kerutan wajahnya tidak diragukan bahwa dia telah menelan banyak pengalaman, tanpa terkecuali pengalaman pahit yang selalu membekas dalam ingatannya.
Salam ( bukan nama sebenarnya) seorang pejabat pemerintahan di salah satu  kabupaten di Sumatra. Dengan keuletan dan kerja keras Salam dapat mengalahkan rekan-rekannya dalam meniti karir. Dalam waktu singkat Salam dapat mendapatkan jabatan penting di pemerintahan kabupaten, berbeda dengan rekannya yang masih di kecamatan bahkan kelurahan.
          Akan tetapi sangat disayangkan, dalam keuletan dan kerja kerasnya Salam menyimpan ambisi pribadi, kerjanya selama ini bukan murni untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Baginya jabatan hanyalah batu loncatan untuk menumpuk kekayaan dan mencari kedudukan.

Awal Kecurangan
            Untuk melancarkan niatnya, Suratman (bukan nama sebenarnya) mengangkat kroninya dalam jajaran pemerintahan, tentunya dengan cara nepotisme ”aku harus menyisihkan orang-orang yang bukan golonganku” gumamnya. ”Suratman tolong diterima sebagai wakil sekertaris,  mohon yang lain disisihkan! Ini ada uang untuk kamu” perintahnya kepada salah seorang penyeleksi pegawai negri.
            Meskipun pejabat baru, Suratman sebagai antek Salam dengan leluasa mulai mengotori pikiran para pejabat di kabupaten. ”Pak Samsul tolong nanti dukung Pak Salam, ini ada sedikit hadiah untuk bapak” rayu Suratman kepada salah satu pejabat. Satu demi demi satu para pejabat dapat diraih hatinya untuk mendukung Salam, kebetulan sebentar lagi ada pemilihan Bupati. ”Man bagaimana perkembangannya” tanya Salam, ”semua beres pak, tinggal beberapa orang saja yang masih mempertahankan idealitas”. ” tolong semuanya dibereskan!”pinta Salam.
             
Korupsi Berjama’ah
            Tidak butuh waktu lama, sebagian besar pejabat sudah termakan bujuk rayu Salam dan anteknya. Dalam kesempatan dibawah satu komando, Salam mencoba membuat proyek bayangan, tujuannya tiada lain mengambil keuntungan dari anggaran akhir tahun yang masih ada sisa untuk dana kampanye,” Bapak Bupati mohon bisa menyutujui proposal kegiatan bakti sosial dan pelayanan kesehatan untuk setiap desa yang ada di Kabupaten kita” pinta Salam.
            Awalnya Bupati meragukan program kerja tersebut, selama ini program tersebut sudah beberapa kali dilaksanakan. Akan tetapi karena desakan Salam yang didukung antek-anteknya Bupati harus menyetujuinya. Menindak lanjuti program tersebut Salam melakukan konsolidasi dengan para pejabat yang ingin mendapatkan bagian uang. Tanpa disangka lebih dari dua puluh orang yang terlibat persekongkolan tersebut.
            ”Suratman tolong kamu manipulasi data, Samsul kamu mengadakan pengecekan kebeberapa lokasi sebagai semple, Ratri kamu faham apa yang harus kamu lakukan”. ”Siap Pak” dengan serempak mereka menjawab. Bagaikan dicocok hidung para pejabat yang korup mematuhi Salam.
           
Akhir Yang Tragis
            Bagaimanpun menyembunyikan bangkai, baunya pasti tercium juga. Berawal dari kecurigaan Bupati ketika mengeluarkan biaya besar akan tetapi kegiatan dilapangan tidak semarak, ditunjang dengan laporan beberapa LSM yang mengetahui gelagat dari tindak pidana korupsi dalam proyek tersebut. Akhirnya sepakat kasus ini dilaporkan ke KPK untuk diaudit.
            ”Saya ini pejabat yang bersih, tanya saja kepada yang lain” rengeknya, ketika KPK menyeretnya untuk diperiksa. Dalam pemeriksaan, ternyata Salam terbukti melakukan korupsi secara berjam’ah. Akhirnya pengadilan memutuskan untuk menjebloskannya ke dalam tahanan beserta antek-anteknya. Tidak berhenti disana, rumah Salam dibakar oleh masa yang mengetahuinya.
            Selama 15 tahun mendekam di penjara, Salam harus merelakan kehilangan anggota keluarga dan kehilangan seluruh harta kekayaan karena disita Negara. Kesadaran hadir ketika semuanya telah berakhir. Dengan sisa kekuatannya Salam akhirnya bertaubat dan meminta pertolongan kepada Allah Swt.
            Sampai akhirnya Salam bertemu seorang ustadz ahli rukyah dan bisnis ala nabawi dari Semarang. Berguru kepada beliau beberapa tahun, Salam mulai meniti usaha dari nol dibawah bimbingannya. Dengan menggunakan relasinya yang banyak, dalam waktu singkat Salam bisa bersaing dalam usaha bisnis sampai menjadi seperti sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar